Wednesday, September 07, 2005

Hidupku adalah Guruku



Ketika kita memiliki keberanian untuk menyadari bahwa hidup kita sendiri adalah guru kita. Maka kita sadar bahwa pengalamanmu adalah milikmu sendiri dan pengalamanku adalah milikku sendiri. Tak seorangpun dapat menyamakan pengalamannya dengan orang lain. Bahkan tak juga ia dapat mengklaim dapat merasakan apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain, baik itu berupa kebahagiaan atau kesedihan. Kita hanya dapat berpikir bahwa kita mengetahui tentang apa yang terjadi pada orang lain.

Ada seorang temanku yang selalu menuduhku bahwa aku tidak akan pernah merasakan dan mengerti apa yang terjadi pada dirinya, saat dengan tegas aku memberikan beberapa masukan-masukan yang positif (tentu saja menurut standard norma yang berlaku) akan apa yang terjadi pada dirinya, sehingga dengan gampangnya aku dapat menghakimi atas segala yang terjadi. Ya, tentu saja begitu lah. Siapa juga yang merasa sok mengerti dan sok dapat merasakan apa yang dialami olehnya.
Apa yang dialami seseorang tidak akan pernah dapat dirasakan dengan sama persis oleh orang lain. Namun tidak ada salahnya jika masukan masukan yang nilainya positif dapat diterima dengan lapang dada. Toh itu hanya masukan. Mau diterima ya monggo , kalau tidak diterima ya tinggal dibuang ke keranjang sampah

Tuesday, September 06, 2005

Bersiaplah untuk mati

X : Lha ndak naik pesawat juga mati. Ketiban pesawat!! 40 orang lho. it's mean, mati bener bener takdir? Tapi kalau human error?? Ada di tangan 1 orang takdirnya?

Y : 1 orang kan bisa bikin jutaan orang mati! Hitler membunuh berapa juta Yahudi? Kematian adalah takdir yang pasti, dan rahasia sifatnya

Hati-hati!!

Mulai sekarang, kalau mau pasang foto di blog harus hati hati... harus minta ijin dulu kepada si pemilik wajah. Boleh ndak gambarnya nampang di blog kita.
Ternyata riskan akibatnya kalau asal pasang gambar teman di blog.
Gawat...

Monday, September 05, 2005

Nikmatilah walau hanya sesaat


Hidup ini tak selamanya indah dan selalu dapat dinikmati. Ia penuh kerja keras, persaingan dan akhirnya menimbulkan kejenuhan dan kebosanan karena rutinitasnya. Dan tragisnya kadang dapat menimbulkan pemikiran, untuk apa aku hidup? Mengapa hidup hanya berulang dan terus berulang? Mengapa?

Untuk itu jika kita mendapatkan momen momen indah dan dapat membuat kita menikmati hidup, nikmati dan rasakanlah dengan sepenuh hati. Nikmatilah seolah olah tidak akan ada lagi momen momen seperti itu. Syukurilah bahwa ternyata kita mendapatkan momen yang indah dalam hidup kita. Walau hanya sesaat. Walau hanya sekejap mata.
Dan jangan pernah kamu menyesalinya.

Saturday, September 03, 2005

Tiga Dinding Pemisah


Kita katakan bahwa ada tiga dinding yang memisahkan kita dari kebenaran. Dinding-dinding ini adalah rasa iri, kemarahan dan kebanggaan. Jika kita cermati, kadar tiga hal negative ini pada diri kita, kita bisa melihat apa yang memotivasi kita, juga apa yang menghalangi kita dari mendengar dan melihat kebaikan.

Dinding pertama, rasa iri, lebih samar daripada yang kita pikirkan secara normal. Rasa iri melahirkan ketamakan, kekikiran, dan hal lain yang semacam itu. Tapi, apakah itu yang terjadi pada kita, sehingga melalui rasa iri kita mencoba mendapatkan pengalaman orang lain? Sekarang, kita benar benar tahu bahwa tak ada dua momen yang sama persis. Pengalaman yang dialami seseorang tidak akan bisa sama dengan pengalaman orang lain. Rasa iri membuat kita bekerja keras mengejar sesuatu yang bukan milik kita, sesuatu yang tidak nyata. Apa yang kita pikir kita rasakan hanyalah bayangan dari kenyataan yang dialami seseorang. jadi bagaimanapun keadaaannya, jangan mencoba meniru orang lain. Kau harus memiliki sesuatu yang nyata bagi dirimu. Dengan begitu, kau punya sesuatu yang nyata untuk diberikan pada orang lain.

Dinding kemarahan, bisa dilihat di berbagai tempat. Look, kita sering memarahi orang lain atau situasi yang kita temukan dalam diri kita. Tidakkah kita selalu berusaha mengubah sesuatu sebagaimana mestinya? Dan ketika kita tidak bisa melakukannya, kita marah? Kemarahan datang dari upaya kita untuk mengubah sesuatu yang kita sendiri tidak berhak mengubahnya. Seperti dinding-dinding yang lain, kemarahan disebabkan oleh shock yang kita rasakan dalam hidup ini.

Kebanggaan berhubungan dengan perasan bahwa kita istimewa dalam satu hal, dan itu berasal dari kebodohan. Akan tetapi, penyebabnya bisa juga karena shock, dan akibatnya kita mencoba mempertahankan diri kita dan menjadi arogan. Tak seorangpun lebih istimewa dari yang lainnya; atau dapat kita katakan bahwa kita semua sama sama istimewa.