Showing posts with label petualangan. Show all posts
Showing posts with label petualangan. Show all posts

Tuesday, July 21, 2015

Semeru, napak tilas jalinan persaudaraan (1)

Semeru. Salah satu tempat yg jadi obsesi para pendaki gunung. Juga obsesi saya.
Saya punya mimpi jalan bertiga dengan adik-adik ke sana. Ya. Hanya bertiga.
Memperingati jalan hidup kami yang sudah 40 tahun lewat. Mensyukuri hidup kami yang sampai saat ini, Alhamdulillah Puji Tuhan dapat dianggap baik baik saja.
Saya ingat, kami bertiga di masa kecil termasuk saudara yg rukun. Berantem. Itu pasti. Yah. Seperti layaknya hubungan antar saudara pada umumnya.

Singkat cerita, lewat komunikasi dan diskusi singkat via watsap, kami sekarang dalam perjalanan menuju Malang dan langsung ke Ranupani. Mewujudkan obsesiku.

Bertiga saja rasanya tidak mungkin, perlu supporter mengingat usia tidak muda lagi. Anak dan keponakan kuajak utk membantuku dalam perjalanan spiritual ini.
Persiapan fisik seadanya, aku yg biasa ke lapangan rasanya masih mampu. Walau mungkin tidak cepat. Pelan namun pasti.

Rute yang diambil, Semarang Solo Ngawi....Batu dan langsung ke Ranupani.
Rencana nyopir gantian dg adik.

semangat membuncah di dada. Semoga fisik mendukungku.

(bersambung)

Monday, April 22, 2013

Batu Bacan (2)

Batu bacan tetap jadi incaran, saat perjalanan saya lagi ke ternate bulan april ini. Apalagi ada seorang teman yang titip. Air liur dah menetes nih.
Akhirnya dapet juga batu bacan titipan teman. Harganya... alamak!!!
Tapi yang bikin puas adalah, saya dah jatuh cinta pada batu itu sejak pandangan pertama, jadi... why not? berbagi rasa cinta kepada teman?

Batu Bacan yang indah....

Saturday, October 06, 2012

Muara Teweh,Kota Kecil yang Besar

Saat mengetahui saya harus menuju pedalaman Kalimantan Tengah di wilayah Kabupaten Murung Raya, betapa senangnya rasa ini. Jadi inget perjalanan beberapa belas tahun lalu, saat menuju Buntok, untuk menyambangi keluarga adik yang saat itu merantau ke Ampah. Langsung membayangkan lamanya perjalanan yang cukup seru dan asik.
Tujuan akhir adalah pedalaman Sungai Barito, dan kota terakhir untuk menuju tempat tersebut adalah Muara Teweh. Wow.
Dalam perjalanan yang memakan waktu hampir 10 jam lebih kurang dari Banjar Baru (Kalimantan Selatan), saya hampir tidak memejamkan mata. Begitu ingin tahu keadaan kota kota yang terlewati. Kota kota yang pernah saya lewati 17 tahun lalu. Kandangan, Amuntai, Ampah, Buntok, wah....ada beberapa plang nama tempat makan yang cukup menarik.... ketupat kandangan,.. dan bakar bakaran di Amuntai...

Sempet merasakan bakar bakaran di Amuntai, kebetulan saya dan teman teman ambil bebek, dkk nya... rasanya?... hmmm ndak bisa diceritakan, karena memang ndak perlu diceritakan. hehehe....

bakar bakaran di Amuntai

Tugu masuk kota Kandangan berupa Ketupat.

Sudah gelap saat saya sampai di Muara Teweh. dari ketinggian saya agak sedikit kaget, melihat lampu lampu kota yang cukup banyak dan dalam area yang cukup luas. Itulah kota Muara Teweh. Hah! ternyata saya salah sangka. Saya pikir kota Muara Teweh adalah kota kecil biasa, ternyata... sebagai kota di pedalaman Kalimantan Tengah, kota tersebut cukup hidup.  Ramai.
Indikator utama adalah, berjejer ATM dari berbagai bank utama di Indonesia, semua ada di kota kecil ini. Alamat kehidupan bisnis dan ekonomi cukup padat lalu lintasnya di kota ini.

Saya menginap di Hotel Pacific, yang konon merupakan salah satu pioner hotel di kota Muara Teweh ini.  Nah, berbeda lagi saat melihat bentuk fisik hotel tersebut. Terlanjur berharap melihat hotel kecil yang standard bentuknya, ternyata dari luar hotel ini hanya seperti penginapan biasa. Hotel ini ada di jajaran bangunan-bangunan ruko yang ada di tepi S. Barito. Yah.. lumayan lah sebagai tempat istirahat, yang penting buat saya, kamar mandinya bersih dan tidak horor buat bersih bersih. Isi perabot kamarnya, standard, cukup layak. Apalagi kebanyakan yang nginep di sini bule bule yang kerja di pertambangan batubara sana. Katanya sih masakan di sini sangat direkomendasikan, namun sampai saya check out, tiap kali pesan makanan selalu dijawab dengan kalimat, chef nya tidak ada. Namun tiap kali lewat ruang makannya, saya melihat bule bule itu sedang makan enak. Apa maksudnya? Apakah tampang saya dan teman teman kurang qualified? wkkakakak.....

Kehidupan malam di Kota Muara Teweh, cukup ramai. Bahkan lebih ramai daripada kota kota kecil yang pernah saya kunjungi di pedalaman Kalteng. Mungkin karena ada di tepi Sungai dan merupakan tempat transit utama di wilayah pedalaman Kalteng ini, jadi Muara Teweh cukup jadi tempat yang diandalkan untuk pintu keluar masuk wilayah Murung Raya ini.

(bersambung)

Monday, August 13, 2012

Regenschaft Leisela di Pulau Buru - Pulau Buru (3 - tamat)


Tulisan di bawah adalah uraian tentang keberadaan kesatuan adat di Pulau Buru, hasil tulisan saya pada salah satu sub bab dalam laporan untuk The Borneo Initiative, yang diambil dari berbagai sumber literatur terkait kondisi Pulau Buru, salah satunya adalah "Mapping Buru: The Politics of Territory and Settlement on an Eastern Indonesian Islan" tulisan Barbara Dixed Grimm, dan "Legenda Tit Afu oleh E.M. Solisa.
---
Penduduk asli Pulau Buru pada mulanya berdiam di daerah pedalaman, yang meliputi pegunungan, perbukitan dan lembah. Namun secara berangsur sebagian diantaranya mulai bermukim di pesisir. Terdapat sebutan lain penduduk pesisir untuk penduduk asli Buru yang masih tinggal di pegunungan, yaitu masyarakat alifuru[1]
Masyarakat adat Pulau Buru menganggap bahwa seluruh lahan yang ada di Pulau Buru adalah milik hak masyarakat adat setempat secara komunal. Kepemilikan yang ada didasarkan pada kesamaan soa atau marga dan kesepahaman masyarakat adat tentang batas hak ulayat masing masing soa atau marga.[2]
Menurut H. Djafar Wael, secara umum soa pada masyarakat adat Buru terbagi atas dua, yaitu noropito dan noropa (noro = marga, pito = tujuh, pa = empat).  Noropito merupakan soa yang asli di Pulau Buru. Sedangkan noropa merupakan soa pendatang yang terdiri dari empat soa. Soa pendatang ini berasal dari Ternate, Madura, Kolamsusu (Buton) dan Tasijawa (Jawa). Sementara Noropito terdiri dari tujuh soa. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, sejarah awal munculnya tujuh soa diawali oleh lahirnya tujuh anak dari sepasang suami istri yang di kemudian hari menjadi cikal bakal munculnya tujuh soa asli di Pulau Buru ini. Ketujuh soa asli Pulau Buru yaitu: Hain, Waitemu, Waeula, Kakhana, Gewagi, Watnerang dan Waehiri. Ketujuh soa asli Buru ini dipimpin oleh Taksodin yang berasal dari Soa Waehiri. Sedangkan empat Soa pendatang (Noropa) dipimpin oleh Hinolong dari Soa Baman dan bertempat di Wayapo.
Pada awalnya kedua kelompok soa tersebut, baik asli maupun pendatang merupakan masyarakat yang menempati daerah pegunungan (alifuru). Namun kemudian ketujuh soa asli mengutus salah satu soa, yaitu Waehir (Wael) menuju pesisir untuk menjadi raja. Tujuan dari dipilihnya soa Waehiri sebagai raja ini adalah agar yang bersangkutan dapat menempuh pendidikan dan memimpin masyarakat adat.
Masyarakat adat Buru membagi ruang di wilayahnya atas tiga bagian[3] yaitu:  Pertama adalah kawasan yang dilindungi karena nilai kekeramatannya.  Yang termasuk wilayah keramat adalah Gunung Date (kaku Date), Danau Rana (Rana Waekolo) dan tempat yang keramat di hutan primer (koin lalen); Kedua adalah kawasan yang diusahakan meliputi pemukiman (humalolin dan fenalalen), kebun (hawa), hutan berburu atau meramu (neten emhalit dan mua lalen), hutan kayu putih (gelan lalen) dan tempat memancing (wae lalen); Ketiga adalah kawasan yang tidak diusahakan, meliputi bekas kebun (wasi lalen) dan padang alang-alang (mehet lalen).
Menurut penduduk asli Pulau Buru, air Danau Rana berasal dari Gunung Date, untuk itulah wilayah Gunung Date tersebut harus dijaga sebagai wilayah yang sakral.  Gunung dan air adalah sumber kehidupan Orang Bupolo, sehingga perlu dijaga dengan tatanan adat yang kuat. Kepercayaan ini dinyatakan dengan adanya struktur Matgugul sebagai penjaga Danau Rana dalam tatanan masyarakat adat Leisela. Mereka menerapkan aturan bahwa Gunung Date dan Danau Rana harus  dijaga dari adanya pengaruh orang luar, dengan diberlakukannya larangan membawa orang luar mengunjungi dan melintasi Gunung Date. Aturan tersebut ditunjang dengan adanya struktur Seged sebagai pos penghubung dari pesisir ke dataran Danau Rana.
Disamping kuatnya kepercayaan masyarakat adat Pulau Buru tentang keberadaan tanah leluhur yang disakralkan,  keberadaan masyarakat adat Pulau Buru tidak dapat dilepaskan dari adanya tinggalan pemerintah Belanda di masa lalu yang membagi Pulau Buru dalam beberapa regentschap[4].  Dasar pembentukan regentschap itu sendiri tidak terlepas dari keberadaan Petuanan pada masing masing wilayah di Pulau Buru[5]. Keberadaan Regentschap memiliki sejarah yang panjang, karena bermula saat VOC mulai menguasai wilayah timur Indonesia. Pembentukan Regentschap oleh VOC ditujukan untuk mempermudah pengawasan VOC secara administratif dan politik di Pulau Buru. Pola pemerintahan yang ada di Pulau Buru sejak beberapa menjadi wilayah vassal dari Portugis hingga saat VOC dibentuk regenctschap dan kemudian sampai saat ini dalam bentuk pemerintahan kabupaten, ternyata konsep petuanan tetap berlaku dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Struktur fungsional dan sosial petuanan tetap dipercaya oleh masyarakat dalam menyelesaikan beberapa masalah yang timbul dalam kehidupan masyarakatnya.
Informasi yang didapat dari data sejarah VOC dari lembar Staatblad no.19A, sedikit berbeda dari cerita yang ada pada masyarakat adat Buru. Menurut informasi sistem pemerintahan di Buru pada masa lalu, dikenal pula istilah pemerintahan 12 Raja Pati yang berpusat di Kayeli. Kedua belas Raja Pati ini adalah: Masarete, Waesama, Kayeli, Liliani, Tagalisa, Leisela, Wamlana, Fogi, Palumata, Lumaiti, Mahu dan Wailnusa. Dari kedua belas Raja Pati tersebut, hanya tersisa 8 Raja Pati yaitu Masarete, Waesama, Kayeli, Liliani, Tagalisa, Leisela, Wamlana dan Fogi. Keempat lainnya musnah, karena ketiadaan warga dari 4 Raja Pati tersebut. Kedelapan Raja Pati yang ada kemudian berpindah ke daearahnya masing masing dari Kayeli. [6]
Area kerja PT. GHL masuk dalam wilayah petuanan Leisela. Petuanan Leisela sendiri luasnya hampir 2/3 Pulau Buru. Disamping petuanan Leisela  beberapa petuanan lain yang masih ada saat ini adalah  adalah Petuanan Tagalisa (wilayah Waplau), Liliali (wilayah Namlea), Kayeli (wilayah Waiapu) dan Masarete[7].
Menurut Plt Raja Leisela, wilayah Petuanan Leisela terletak memanjang dari barat ke timur dari Tanjung Waeikan sampai dengan Waemase, dan dari selatan ke utara meliputi Kali Waemala sampai Teluk Kayeli. Menurut informasi, terdapat 24 soa  di wilayah Petuanan Leisela saat ini. Keberadaan raja sebagai tokoh yang dianggap mengepalai suatu petuanan, tidak terlepas dari campur tangan VOC di masalalu. Pengangkatan raja sebagai penguasa regentschap merupakan suatu cara untuk mengikat para petuanan untuk tetap dalam penguasaan VOC.
Secara internal struktur sosial masyarakat adat Buru yang ada di dalam Petuanan Leisela masih mengacu pada struktur yang dipercayai dan diyakini oleh penduduk asli P. Buru. Secara garis besar, dapat dikatakan terdapat dua struktur yang diyakini masih berjalan di wilayah Leisela, yaitu struktur Petuanan dan struktur Soa. Struktur sosial yang ada masyarakat adat Leisela dilihat dari segi kewilayah adat yang mencakup pesisir sampai dengan Danau Rana. Danau Rana dianggap sebagai danau pusat masyarakat adat Buru berasal. Daerah di sekitar Danau Rana merupakan wilayah yang sakral dan harus dijaga dengan baik. Dalam pemahaman masyarakat adat Buru, terdapat ikatan yang kuat antara soa dan wilayah adat (neten). Setiap anggota soa adalah pemelihara wilayah soa mereka (geba neten duan). Tokoh adat masing-masing soa memahami batas wilayah masing-masing soa, yang biasanya dibatasi dengan topografi wilayah, misalnya: lembah sungai, sungai, pegunungan, batuan atau bentuk bentuk topografi lain.
Secara umum sistem organisasi kemasyarakatan pada penduduk asli Buru terdiri dari Kepala Soa, Kepala Adat dan Raja. Kepala Soa mengepalai suatu Soa, Kepala Adat mengepalai semua Soa, serta Raja sebagai penguasa tertinggi Adat dan wilayah Petuanan.
Fungsi Kepala Soa adalah mengatasi segala persoalan atau permasalahan baik menyangkut adat maupun persoalan sosial lainnya dalam lingkungan marganya. Kepala Soa diangkat berdasarkan keturunan. Biasanya yang diangkat sebagai Kepala Soa adalah anak pertama laki-laki. Upacara pengangkatan Kepala Soa dipimpin oleh Kepala Adat. Wilayah tempat tinggal Kepala Soa adalah dusun yang yang merupakan bagian dari desa.
Kepala Adat berfungsi untuk mengatasi permasalahan di semua marga yang mana persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh Kepala Soa. Disamping itu, Kepala Adat juga berfungsi sebagai pemimpin adat, diantaranya upacara pengangkatan Kepala Soa, pernikahan, dll. Kepala adat juga diangkat berdasarkan keturunan. Upacara pengangkatan Kepala Adat dipimpin oleh Raja. Wilayah tempat tinggal kepala adat adalah desa.
Raja sebagai pemimpin adat dan wilayah Petuanan di Pulau Buru, bertugas menangani dan mengatasi segala persoalan adat di wilayahnya dalam lingkup luas. Segala persoalan tingkat kepala soa dan kepala adat, jika tidak dapat diselesaikan, maka dibawa kepada Raja untuk diselesaikan. Raja diangkat berdasarkan keturunan, yakni anak pertama dari Raja.
Adapun pada wilayah Petuanan Leisela, dalam struktur pemerintahan adatnya, dikenal dengan istilah Leisela Tanggar Telo (tiga tingkat), yang strukturnya dapat dideskripsikan sebagai berikut:
 
Tabel  311     Struktur Sosial dan Fungsional Petuanan Adat Leisela
I
 Raja, berasal dari marga Hentihu
- Henolong, berasal dari marga Fua
- Bupator Pito (7 Kepala Soa), yang terdiri dari:
a.      Fua
b.      Tifu
c.       Hentihu
d.      Warnangan
e.      Wamnebo
f.        Gibrihi
g.      Waili Tomlin
II
Seged Natan Roa
Seged bertugas sebagai penghubung daerah pesisir ke Danau Rana.
Sesuai dengan yang menjadi kepercayaa leluhur,  Seged bertugas pada dua wilayah yaitu sebelah timur dan sebelah barat.
Barat
-          Fanabo/Tasijawa
Timur
-          Waili/ Lehalima
III
Bumilale (Dataran Rana)
Yang menjaga dataran Rana adalah Mat Gugul[8]. Terdapat dua jabatan Matgugul di tingkat ini, yakni Matgugul wilayah barat dan Matgugul wilayah timur.
Matgugul memiliki pembantu yang disebut Portelo dengan tugas mengkoordinir soa –soa yang ada di bawah wewenang Matgugul.
Barat
Jabatan Matgugul dipegang oleh Soa Waikolo
4 soa yang ada di bawah Matgugul Waikolo adalah;
-          Waidupa
-          Minggodo
-          Walpangat
-          Marmaho
Timur
Jabatan Matgugul dipegang oleh Soa Nalbesi
4 soa yang ada di bawah Matgugul Nalbesi adalah:
-          Wae eno
-          Walumama
-          Kafafa
-          Wanoso

Keberadaan soa yang cukup banyak di wilayah adat Leisela sendiri ternyata tidak menimbulkan gesekan antar soa. Dalam masing-masing soa terdapat struktur  yang sudah terbentuk dari awal.



Dalam struktur internal soa/marga, terdapat beberapa jabatan sebagai berikut:
-          Kepala soa, yang mengepalai suatu soa, dipilih atas kesepakatan tokoh tokoh soa.  Kepala Soa berfungsi untuk mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan warga dalam suatu soa. Baik persoalan kemasyarakatan maupun persoalan adat.
-          Porisi adalah salah satu jabatan dalam struktur soa yang bertugas menyelesaikan masalah yang timbul dalam soa dan tidak dapat diselesaikan internal oleh masing-masing kepala soa  yang bermasalah.
-          Kawasan adalah salah satu jabatan yang dapat disejajarkan dengan kepala dusun. Dalam satu soa, biasanya terdapat 5 mata ruma. Kawasan biasanya yang mengetahui segala sesuatu urusan dalam soa yang bersangkutan. Selain itu tugas kawasan yang lain adalah membantu kepala soa.
-          Marinjo adalah salah satu jabatan dengan tugas menyebarkan undangan jika akan ada satu kegiatan, atau menyebarkan informasi kepada masyarakat adat.
-          Gebopuji bertugas sebagai imam dengan tugas menjaga tempat-tempat yang sakral.

Setiap soa terdiri dari beberapa mata rumah. Masing masing mata rumah sudah memiliki pembagian tugas sendiri-sendiri sesuai pembagian sejak generasi awal dalam suatu marga sebagaimana tertuang pada gambar di atas.  Secara turun temurun anggota mata rumah akan mewarisi tugas dan tanggung jawab yang sama dengan pendahulunya.[9]


[1] Artinya “orang balakang” atau masyarakat terbelakang. Hal ini dikarenakan penduduk yang tinggal di pegunungan atau dataran tinggi di pedalaman Pulau Buru kehidupannya masih sangat sederhana dan terbelakang.
[2] Penggunaan Soa atau marga untuk penyebutan kelompok masyarakat adat tertentu di wilayah Indonesia Timur. Untuk selanjutnya akan digunakan istilah soa  sebagai istilah yang cukup popular dalam penyebutan marga di masyarakat adat Buru..
[3] Pattinama, Marcus J, Pengentasan Kemiskinan dengan Kearifan Lokal (Studi Kasus di Pulau Buru – Maluku dan Surade – Jawa Barat), MAKARA, Sosial Humaniora, Vol 13. No. 1, Juli 2009: h/ 1-12
[4] Saat VOC mulai masuk ke wilayah Indonesia Timur mengambil alih posisi Portugis yang sudah menguasai wilayah pada masa sebelumnya, VOC juga mengklaim Pulau Buru sebagai wilayahnya dengan perkiraan bahwa Pulau Buru merupakan salah satu daerah Kesultanan Ternate pada masa itu. Sehingga begitu VOC menguasai wilayah Kesultanan Ternate, Pulau Buru otomatis juga menjadi wilayah VOC. Untuk memudahkan system administrasi pemerintahan dan politik,  pada tahun 1824 hukum colonial Belanda menghasilkan pembagian wilayah Pulau Buru menjadi 14 regentschap berdasarkan petuanan yang ada di Pulau Buru. Pada tahun 1934 jumlah regentschap berkurang hingga hanya tinggal 7 regentschap ( Barbara Dix Grimes, “Mapping Buru: The Politic Territory and Settlement on an Eastern Indonesia Island”, Sharing the Earth, Dividing the Land”, Reuter, Thomas Anton (ed.), ANU Press, The Australian National University, 2006 ).
[5] Menurut Staatblad no. 19 A, VOC memandang perlu reorganisasi politik local dengan menggabungkannya dengan system colonial. Untuk itu karena tidak ada system pemerintahan local yang sudah diakui keberadaannya, maka pemerintah menunjuk para raja masing masing petuanan dan membentuk regentschap.   VOC mengumpulkan 14 raja yang ada dan ditempatkan di Kayeli, dan diangkat sebagai regent untuk masing masing regentschap yang dibentuk oleh VOC. Oleh VOC, Kayeli disebut sebagai kerajaan bentukan VOC di Pulau Buru, dapat disebut juga, Kayeli adalah cermin Pulau Buru buat VOC (ibid.)
[6] Terdapat struktur hierarki dari keberadan delapan Raja Pati ini, yang tertinggi adalah Raja, kemudian Pati dan yang terakhir Orang Kaya. Strata tertinggi adalah bersoa Wael bertempat di Kayeli. Strata kedua bersoa Soel bertempat di Fogi dan soa Hentihu di Wamlana. Strata ketiga adalah soa Tumnusa di Waesama, soa Besi di Liliali, soa Hiku di Tagalisa dan soa Waetabo di Masarete.
[7] Pada akhir abad 19, keberadaan regentschap bentukan VOC yang tadinya berjumlah 14, akhirnya berkurang. Kondisi tersebut terkait dengan kenyataan bahwa tidak semua regentschap memiliki penduduk dalam jumlah cukup banyak. Akhirnya pada tahun 1847 beberapa regentschap yang lokasinya berada dalam satu wilayah digabungkan jadi satu, misalnya” Regentschap Maro, Hukumina, Palamata dan Tomahu dimasukkan dalam Regentschap Bara. Menyusul regentschap Ilat pada tahun 1875. Bahkan keluarga utama pada masing masing regentschap tersebut lama kelamaan juga punah karena jumlahnya yang lama lama semakin sedikit. Pada tahun 1900 an, para raja kembali ke wilayah masing-masing di Pulau Buru, setelah hampir lebih dari 100 tahun tinggal di sekitar Kayeli.
[8] Matgugul adalah sebuah jabatan dimana pemegangnya harus tinggal di dataran Rana. Masing masing Matgugul membawahi 4 soa/marga
[9] Contoh: Jika sudah ditetapkan satu mata rumah mendapat tugas sebagai marinjo sejak dulu, maka pada masa kemudian anak turunannya akan mewarisi tugas sebagai marinjo.

Sunday, June 10, 2012

Pulau Obi Tanpa Ubi ( part 1)


Tugas ke pulau Obi? Why not? Pikir saya waktu dapat job pekerjaan di tempat tersebut. Tempat baru selalu membuat saya bergairah. Terpikir aka nada tantangan baru lagi.
Akhirnya saya setuju aja dengan tawaran tersebut.
Perjalanan ke obi dapat ditempuh dua cara, lewat dua cara. Pertama dengan pesawat dulu ke Labuha, dan dilanjutkan dengan perjalanan laut ke pulau obi. Atau langsung naik kapal laut ke pulau obi. Pilihan jatuh pada naik kapal langsung aja. Selain males gonta ganti alat transport, ternyata dari labuha ke pelabuhan juga makan waktu, disamping jadwal lanjut ke pulau Obi masih nunggu kapal laut lagi kan?... ending nya sama deh lama perjalanan untuk sampai ke pulau obi.

Dari Jakarta, transit di ternate satu malam, berhubung dah hampir bosan dengan kota ternate, akhirnyalah saya Cuma stay di hotel dan jalan makan aja. Makan ke tempat itu itu aja yang hampir membuat saya bosan juga.

Keesokan harinya, barulah perjalanan sebenarnya dimulai. Dengan menggunakan kapal Sumber Raya, kami menuju Pulau Obi. Lumayan, dapat kamar yang diisi sekamar berdua, walau hanya dengan kipas angin. Not so bad.

Perjalanan yang ditempuh dari Ternate sampai ke Jikotamu di Pulau Obi sekitar 16 jam. Kata pendamping sih itu termasuk cepet. Biasanya baru sampai sekitar jam 4 sorean.
Selama perjalanan menuju Jikotamu, kapal berhenti di beberapa perhentian desa. Biasanya penumpang naik turun di masing masing desa desa kecil tersebut.

Selalu ada yang menarik perhatian saat perhentian. Entah itu pedagang makanan, entah itu anak anak...
Kehidupan yang sangat beragam ini memang selalu menarik untuk disimak.


Anak anak dengan gampangnya memancing ikan untuk lauk harian mereka. Begitu gampangnya.







Jikotamu sendiri adalah tempat berlabuh kapal penumpang di Pulau Obi yang ada di Kecamatan Obi Utara.   Ada beberapa buah penginapan di desa tersebut. Kami menginap semalam di desa Laiwui  sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan akhir. Suasana penginapannya sendiri….. not so bad. Apalagi yang kami pilih adalah penginapan yang paling bagus  desa tersebut. Nama penginapannya Dua Puteri. Cukup nyaman.

Perjalanan akhir menuju lokasi, masih harus ditempuh selama tiga jam, mengelilingi Pulau Obi, menuju Obi Selatan. Laut Seram membayang di depan mata. Yang mabok dah siap siap antimo. saya?..no way ... akan sia sia jika perjalanan hanya dikalahkan oleh antimo yang bikin teler itu.

Ada satu desa yang bernama Soligi yang saya kunjungi. Soligi ini masuk Kecamatan Obi Selatan.
Kecil. Namun jangan salah... Fasilitas pendidikan lengkap di sini, dari SD sampai SMA. Jadi, ndak heran kalau banyak mahasiswa juga di desa ini. Dan sepertinya ada ikatan pelajar mahasiswa juga di desa ini. Lupa namanya.





Agar perahu tidak hanyut dan pecah karena ombak Laut Seram yang cukup besar pada musim musim tertentu, penduduk pesisir pantai yang ada berhadapan langsung dengan laut seram biasanya menyimpan perahunya dengan cara digantung.
Tentu saja, tali penggantung harus kuat untuk dapat menahan beban perahu selama berhari hari, saat nelayan tidak berlayar mencari ikan.


(bersambung) 

Thursday, March 15, 2012

Pulau Buru yang kuburu (2)

Salah satu hal yang menarik perhatianku sejak mendarat pertama kali di Pulau Buru adalah adanya ikon terkenal dari Pulau Buru, yaitu minyak kayu putih. Wow!.. karena dianggap asli dan bagus. Sepanjang perjalanan di beberapa lokasi saat menuju desa desa yang ada di wilayah pesisir utara Pulau Buru, banyak saya lihat hamparan tanaman kayu putih yang sudah gundul, karena habis dipanen daunnya untuk dibuat minyak kayu putih. Kata mereka enam bulan lagi bisa dipanen daunnya. Dalam hatiku, waduh, bisa lihat pembuatan kayu putih ndak ya.. kalau daunnya aja habis gitu.

Syukurlah, tanya tanya ke orang yang nganter saya, kemudian dianter ke tempat penduduk setempat yang biasa bikin kayu putih.
Ternyata cukup sulit, karena tidak semua tempat penyulingan sedang melakukan pembuatan minyakkayu putih. Banyak yang kosong, gara gara demam emas yang melanda Pulau Buru.
Tempat pembuatan yang aku lihat ada di tengah tengah kebun rimbun yang tidak terlihat dari jalan raya. Bangunannya benar benar tidak permanen, karena beratap rumbia dan berangka bambu.



Peralatan yang adapun masih sederhana, hanya terbuat dari kayu. Tungkunya pun juga sederhana. Dua orang Buton yang saya temui mengatakan bahwa walaupun peralatannya masih sederhana dan tradisional, namun peralatan tersebut awet dan dapat menghasilkan produk yang bagus. Tungku yang ada berasal dari tanah liat, lebih bagus daripada tungku yang dibuat dari semen, karena tungku dari tanah liat lebih tahan panas daripada semen.
Gambar dibawah menunjukkan betapa teknologi tradisional masih eksis hingga saat ini.





Untuk memproduksi 6 botol minyak kayuputih seukuran 600 ml, daun kayu putih yang dibutuhkan adalah sebanyak satu wadah kayu besar seperti di gambar tersebut, penuh dan padat serta harus dipadatkan agar muat banyak. Proses pembuatannya sendiri memakan waktu kurang lebih 8 jam.


Dua orang pembuat kayu putih yang saya temui hanyalah tukang pembuat minyak kayu putih. Daun kayu putih yang mereka proses diambil dari lahan milik seseorang yang merupakan penduduk asli Pulau Buru. Untuk pemberian hak pengambilan daun kayu putih yang dilakukan oleh kedua orang tersebut pada lahan yang sudah diberikan hak kepada mereka, maka 3 kg minyak kayu putih harus diberikan kepada pemilik lahan dimana mereka mengambil daun kayu putih. Berapapun hasil yang mereka buat dari lahan tersebut, mereka hanya diminta memberikan sejumlah tersebut. Cukup adil, mengingat proses pemetikan daun kayu putih pada lahan yang sedang mereka kerjakan saat ini cukup jauh.

Kata pengantar saya, biasanya satu botol minyak kayu putih berharga 75 K. Namun, akibat demam emas yang ada, maka produksi kayu putih cukup sulit, sehingga saat saya beli, harga sebotol minyak kayu putih ukuran 600 ml adalah 125 K.
lumayan ....apalagi kalau belinya sampai 5 botol.
Namun sebanding dengan harumnya minyak kayu putih asli yang saya dapatkan. But, jangan coba coba dipakaikan untuk anak anak ya, minyak aslinya ternyata cukup panas.

Satu hal yang menarik dari Pulau Buru sudah saya temui, mudah mudahan ada cerita menarik lainnya dari pulau Buru.
(Bersambung)

Wednesday, March 14, 2012

Pulau Buru yang kuburu (1)

Begitu tahu ada proyek yang ditawarkan ke saya lokasinya di Pulau Buru, saya terus menerus berharap supaya bisa goal...
Saya belum pernah ke sana, jadi ingin sekali ke sana.

Ternyata saat ini tidak ada pesawat yang menuju ke pulau buru, dulu sih ada katanya, tp sekarang sudah tidak ada.
Jadilah, harus mengatur jadwal dengan pemakaian kapal penumpang menuju ke pulau buru.
Akhirnya hari H pun datang, berangkat dari Jakarta jam 06 pagi, transit di surabaya bentar, then langsung ke Ambon.
Transit di Ambon, karena kapal baru jalan jam 20.00 WIT menurut jadwal. SO, saya hanya istirahat aja mau kemana mana kok ndak sreg, hujan lagi.

Akhirnya saat naik kapal pun tiba, kapal yang saya naiki namanya kapal penumpang Elizabeth , dia ada kelas kamar dan tanpa kamar. Harga kamarnya sendiri 300 rb per kamar diluar harga tiket yang sekitar 120 ribu an.
Tunggu punya tunggu, kapal baru berangkat jam 21.30. Tapi ndak papa sih, daripada sampai pulau buru masih gelap, mending agak siangan dikit.

Sepanjang perjalanan kapal, saya cuma tidur..habis laut tenang tanpa gelombang. Saya pasang alarm jam 02.00 pagi WIB, karena katanya bakal sampai Namlea sekitar jam itu.
Ya udah, alarm bunyi, dan saya siap siap beres beres barang untuk dibawa turun.

Kami ber empat, jadi saling bagi bagi barang, biar ndak pake porter.
Sampai Namlea sekitar jam 4 an pagi, masih gelap sekali.
Sambil nunggu jemputan, kami diam aja di kapal. Biar agak terang sedikit.

Setelah jemputan dateng, perjalanan kami lanjutkan ke arah barat, ke wilayah kecamatan Air Buaya. Sepanjang perjalanan masih gelap, hanya berhenti sebentar di suatu masjid, karena teman teman akan subuhan.

Sampai di tempat tujuan sudah jam 07.00 waktu setempat. waaaah...
lega...bisa gubrag bentar, walau di kapal tidur terus, tp tetep aja capek.Karena tidurnya sambil bersikap waspada terus.
Lha sambil bayangin.....yang ndak ndak....apalagi kita kan melewati laut seram, yang kalau musim barat, agak seram......

(bersambung)

Sunday, October 16, 2011

Mati gaya di Palembang

Ternyata, bisa juga aku mati gaya di kota....
Biasanya ndak pernah lama lama transit dikota provinsi,....begitu dateng...langsung ke lapangan lokasi tempat kerja....
sekarang ini.....tahu deh...sudah beberapa hari di Palembang, sudah bosen pula sama mpek pek....mau makan apa lagi sampe bingung.....masih mending di lapangan deh...malah ndak ada pilihan sama sekali...
...
tinggal nunggu waktu............

Monday, July 25, 2011

Kutai Barat hari pertama

Hari ini pagi pagi jam 4 saya dah sampai di bandara sukarno hatta. Ndak tidur dr jam 12 malam...dg harapan bisa tidur di pesawat.

Begitu sampai Balikpapan nongkrong dulu nunggu mobil jemputan ke kutai barat.
Tadi mulai jalan sekitar jam 11 an. Nyampe Barong Tokok jam 12 an tengah malem. Setelah muter muter cari hotel penuh semua, dapet juga akhirnya. Sementara aja sih...2 kamar untuk 5 orang. Alamak!!!
Tak apalah...sementara ini. Besok cari hotel lagi.
Published with Blogger-droid v1.7.1

Wednesday, July 20, 2011

Transit Sejenak

Kemarin barusan dateng dari Halmahera Timur, tujuan utama kota Weda yang merupakan ibu kota kabupaten baru tersebut. Ndak capek sih wong cuma survey gitu aja...
Cuma kebayang perjalanan minggu depan ke Kutai Barat, membuat saya malah merasa capek, karena sebelum pergi besok harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ada selama seminggu ini.

So, transit seminggu di Jakarta sebelum ke lapangan lagi bukannya istirahat malah stress, karena dikejar dead line kerjaan..

Foto foto halmahera ada di blog satunya http://gambar-harian.blogspot.com/2011/07/ternate-halmahera-tengah.html

Thursday, June 02, 2011

Laut selalu biru disana (A trip to Taliabu part 2)






Mei kemarin, untuk ketiga kalinya saya menuju ke Ternate lagi.....ah...tidak..malah ke empat kalinya saya datang ke Ternate...
memang hanya untuk transit sebelum menuju tempat tujuan sebenarnya, namun tidak ada salahnya Ternate menjadi tempat yang cukup penting dalam setiap perjalanan saya ke timur ini... selalu menunggu saat sun rise jika menuju ternate..... karena selalu tiba sekitar jam 6 lebih waktu setempat...
bisa dibayangkan...betapa indahnya sunrise dari angkasa.....
sayang sekali.... kaca jendela pesawat yang saya tumpangi banyak guratan garis...jadi jelek banget gambar yang dihasilkan dari kamera kecil saya lewat jendela tersebut...
sebel...padahal sunrisenya bagus banget....
.....
Perjalanan kali ini menuju taliabu, tp sebelumnya transit dulu di mangole....tahun lalu.. untuk menuju taliabu, saya biasanya terbang dulu ke sanana.....tp sejak akhir tahun 2010 bandara tersebut diblokir oleh penduduk setempat...jadilah.... jalur perjalanan berubah...tp cukup menantang,...karena lewat pulau mangole terlebih dahulu...
....
Untuk sampai ke mangole, saya menggunakan pesawat kecil berkapasitas 20 orang.... ongkosnya murah...hanya 265 ribu..... tentu saja murah...karena pesawat tersebut ada untuk pemerintah daerah setempat.. jadi disubsidi...jika tidak ada pegawai yang harus terbang...seat dapat dipakai oleh publik...namun jika ada rombongan pemerintah terbang...mau ndak mau... publik akan digeser kedudukannya...dari terbang...menjadi..naik kapal laut....
bahkan sudah dapat boarding pass pun...tetep bisa digeser...keluar dari pesawat..hahahaa...
....

Penerbangan ke pulau mangole memakan waktu kurang lebih satu jam lebih....
sampai di mangole masih sekitar jam 10 pagi....mau ngapain ya...
sementara... kita tahu perjalanan taliabu ternyata tidak segampang yang kita duga..
tidak ada kapal reguler pada hari itu..
kapal reguler hanya ada hari....sabtu kalau ndak salah...
then, kita putuskan...menggunakan long boat ke pulau taliabu .....dengan biaya carter??..jangan tanya deh...muahal...


Kami menginap di sebuah penginapan kecil di desa falabisahaya, desa yang merupakan ibukota kecamatan mangole utara. Desanya lumayan rapi....dan sudah beraspal pula..
tentu saja bagus....wong dulu katanya pak harto sempet ke sini..waktu jaya jayanya barito pacific milik prayoga pangestu....
itu jaman jaya nya orba...makanya ndak salah...sampai ada bandara di pulau tersebut...
bahkan ada pabrik pengolahan kayu pula di situ...bekasnya masih ada.....bahkan satpamnya masih ada pula...cuma tentu saja sudah tidak beroperasi....

penginapannya....gitu deh...listrik hanya ada setelah maghrib.... cukup lumayan bersih.... namanya penginapan sarfan.. kalau ndak salah.... ongkos nginap?? 50 k per hari...dan untuk kamar vip (cieee...vip!!)..it cost 150k...mahal ya???? .....makanya kita cuma pilih yang 50 k...karena cuma transit semalam....untuk besoknya pake long boat menuju pulau taliabu...

kata motorisnya sih....2 jam sudah sampai p taliabu....
ternyata................ halah......5 jam!!! gila deh..... 2 jam dari hongkong???

tp seru juga lho....berangkat jam 6 pagi dari mangole.....sangu nasi bungkus....istirahat sarapan di pulau gono....
what a beautiful small island..
gila mek!!! ...pengin stay di sini....pake tenda kecil....wah !!

sesampai pulau taliabu, kami mencari tempat menginap...karena keesokan harinya kami harus memutari pulau taliabu untuk menuju kecamatan taliabu selatan....
bener bener muterin pulau..... capek deh!!!

Begitu banyak cerita perjalanan...tp satu yang pasti....beautiful blue everywhere...jaminan...!!!
foto fotonya ada di blog satunya...tp slidenya bisa dilihat di samping atas itu tuh..>!

Wednesday, January 26, 2011

Ke hulu Mahakam hasratku berlabuh

Waaaaaaaaaah!... baru sehari menghirup udara jakarta, setelah dua mingguan ber petualang ria di hulu sungai mahakam. So many stories..... walau tak didukung dengan gambar-gambar yang indah karena keterbatasan kapasitas kamera saku digital yang sudah uzur.
Namun.... it was unforgetabel trip i ve ever had.

ceritanya?... next posting... wait! karena setumpuk kerjaan sudah menunggu......

Sunday, June 20, 2010

A trip to Muara Bungo

Kalau ada yang bilang, menulis itu gampang, pasti itu salah besar.
Buat saya, menulis masih agak sulit. Saya selalu menunggu mood untuk menulis itu tiba pada waktu dan tempat yang tepat.
Seperti sekarang ini, saya ingin sekali menulis cerita perjalanan perjalanan saya sejak bulan Februari lalu... namun apa hasilnya??? nol besar.

Saat keinginan menulis itu ada, mood dan ide kreatif ndak ada. Saat ide kreatif ada, waktu yang ndak ada. Saat mood dan ide kreatif serta waktu ada,... situasi yang ndak mendukung.
Ya.. seperti sekarang, saya sedang di kota Muara Bungo, in between two jobs. Baru dateng dari pedalaman, sekarang transit di kota muara bungo dan besok pindah ke kota bako untuk pekerjaan lain.
Daripada bengong sendiri di hotel, mending iseng jalan, eh nemu warnet ini.
Mood nulis ada, tapi foto foto untuk di upload ketinggalan di hotel...
Jadinya?? repot kan??? adaaa aja alasan untuk ndak nulis cerita...hahahaha....!!

Foto bisa menyusul.
Saat ini saya di Kota Muara Bungo, merupakan kota kabupaten Bungo. Kotanya cantik. Saya suka. Rapih. Bersih.
Pada tiap persimpangan di kota, terdapat tugu berbentuk bunga rafflesia. Cukup unik dan cukup khas.
Dari Jambi kota ini bisa dicapai dalam waktu 5 jam. Banyak travel menuju kota ini. Menginap di Hotel kelas Melati, lumayan bersih, ber AC. Namun kerasa banget kalau ini hotel lama, karena model bangunan dan bentuk interiornya yang jadul banget.
Walaupun ini kota kabupaten, namun ukurannya cukup besar. Jadi, cukup asik untuk dinikmati waktu sore hari. Bukan kota yang kumuh kok.

Berhubung saya ada kerjaan dari desa ke desa, jadilah, saya langsung menuju lokasi kerja. Hah! jalannya ampuun...
Capek bathin!! wkwkwkwk
Mana ada naik motor capek bathin?.. ada dong.. Karena kita mbonceng, kita harus jaga tubuh kita agar tidak melorot kedepan,.. jadi.. nahan badan terus...

Saya sempet kebingungan cari makanan khas kota ini. Tak ado sama sekali!
Dimano mano tetep.. makanan Padang...
Memang sih ada ceritanya bahwa Jambi ini masih banyak bau bau Padangnya.
So, begitu deh... ndak di Ternate, ndak di Sanana,... ndak di Jambi... teteeeeuuuup... Masakan Padang is a must.

(bersambung)

Saturday, March 20, 2010

Perjalanan menuju Pulau Taliabu (1)

Sebelumnya, tidak pernah sedikitpun terlintas kata Taliabu di benak saya. Blasss!! tiba tiba karena urusan pekerjaan, saya harus menuju ke sana.
Terbayang, bagaimana tantangan saat menuju ke sana.

Pulau Taliabu, ada di gugusan Kepulauan Sula di wilayah Prov Maluku Utara.
Saya yang seminggu sebelumnya ada di Kalimantan Selatan, tidak punya waktu berlebih untuk explore lebih lanjut soal P. Taliabu ini. Padatnya jadwal kerja membuat saya hanya konsentrasi untuk hal hal yang kena tenggat waktu saja.

Dari Banjarmasin, saya menuju Bandara Sukarno Hatta, transit saja langsung menuju Ternate, dan diteruskan menuju Sanana. Sanana adalah ibu kota Kabupaten Kepulauan Sula. Sanana sendiri ada di Pulau Sulabesi

Sanana merupakan kota yang cukup kecil, bahkan saya sangsi, apakah sebagai kota, Sanana sudah siap untuk menjadi kota Kabupaten. Luasnya tidak seberapa, dari ujung ke ujung tidak akan sampai setengah jam, kota sudah habis.
Sebagaimana di Ternate, jangan harap ada sinyal XL di kota ini. Hanya Satelindo dan Telkomsel yang masih eksis di sini.
Ada empat hotel (judulnya) di kota ini, namun dari bangunannya sepertinya berasal dari rumah berukuran besar yang kemudian dijadikan hotel.
Kotanya sepi, saat siang menjelang sore seperti kota tidur.
Toko toko di jalan utama tutup pada siang hari. Satu alasan yang kuat untuk menutup toko adalah, listrik selalu mati dari jam setengah dua siang sampai jam 6 sore.

Kota ini tepat berada di tepi pantai, walaupun begitu, sumur sumurnya tidak ada yang asin atau payau. Bening. padahal kadang-kadang sumurnya tidak lebih dari 10 meter dari bibir pantai.
Sorenya panjang di kota ini, maklum walaupun waktu nya masuk WIT, tp agak agak ke tengah, jadi ya gitu deh,... jam 6 sore masih terang benderang.

Akhirnya, tibalah saya siap siap menuju P.Taliabu. Perjalanan ke sana hanya dapat ditempuh melalui laut. Memakai speedboat, atau memakai kapal kayu. Pilih salah satu. Yang membedakan keduanya hanyalah lama jarak tempuh.
Akhirnya diputuskan menggunakan speedboat, jarak tempuh 10-12 jam tergantung kondisi di perjalanan.
Alamak!! 12 jam di atas laut, pake speedboat kecil pula, panas e..... ampun!!!

Dari Sanana sekitar jam 8 pagi, sampai di Desa Lede (kecamatan Lede) sekitar jam 18.30. Di sini kita memasuki WITA, jadi beda satu jam lebih lambat dari Sanana.
Bayang bayang kekhawatiran rada sirna, walaupun tidak ada sinyal GSM sama sekali, namun masih ada wartel telepon satelit di sini. Lumayan, masih dapat berhubungan dengan dunia luar, walau suara putus putus.

Dan satu yang pasti.. masih ada aliran PLN di sini.. syukurlah.. bisa agak melek deh, walau listrik menyala hanya dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi, lumayan.

Desa Lede adalah desa di tepi pantai P.Taliabu di sebelah barat.


suasana pagi hari di desa Lede.


pemandangan rumah rumah penduduk yang ada di tepi pantai

pantai perawan di desa Lede, alamak masih perawan beneran, cantik nian

Perjalanan berlanjut ke beberapa desa lain di wilayah P.Taliabu Sebelah Barat dan Barat Laut.
Dari beberapa desa yang saya datangi, dapat dilihat adanya dua kelompok penduduk mayor, yaitu penduduk lokal, dan penduduk pendatan.
Penduduk lokal merupakan penduduk asli P.Taliabu bernama Suku Mange e. Mereka merupakan penduduk yang tadinya merupakan penduduk dengan kegiatan ladang berpindah. Namun seiring dengan perubahan jaman, mereka sebagian sudah mulai melakukan kegiatan pertanian menetap, dan tinggal menetap pula.
Seperti biasa dominasi pendatang sangat kentara di pulau ini. Dominasi penduduk dari Buton sangat besar, selain karena mereka adalah pedagang, kemampuan dan keuletan mereka dalam bekerja membuat mereka mendapatkan penghasilan yang lebih daripada penduduk lokal.
Tidak ada hal spesifik yang spesial yang dapat saya ceritakan tentang suku ini. Selain, minoritasnya dari suku pendatang. Ingin saya deskripsikan, namun,... di posting berikutnya saja ya....

Diluar semua itu, saya dapat gambar gambar indah dari pulau Taliabu. Mudah mudah an tetap indah sampai beberapa puluh tahun kedepan, walaupun saya ndak begitu yakin.


sunrise berawan di desa lede

misty

perfect sunset yang saya ambil dari tempat dengan ketinggian 100 m

wow

so blue




ndak kalah sama thailand

Masih ada cerita dan foto foto lain, berlanjut ke Taliabu II ya???

(BERSAMBUNG)

Wednesday, September 02, 2009

Warung Kopi di Pontianak (Pontianak - 3)

Ada yang cukup menarik perhatian saya setelah beberapa kali pergi dan tinggal di pontianak untuk beberapa saat. Warung kopinya. Iya, warung kopi yang bertebaran di seluruh penjuru kota memberikan ciri khas sendiri di kota itu. Tadinya, saya berharap warung kopi tersebut akan memiliki fasilitas cafe spt di Jakarta. Namun, ternyata yang namanya warung kopi, ya bener bener warung kopi. Di jalan Gajah Mada, tempat saya menginap, entah ada berapa warung kopi, yang pasti jika dihitung dengan jari, seluruh jari kaki dan tangan saya tidak cukup untuk menghitungnya.

Warung kopi di sini sudah buka mulai pagi, sekitar jam 9 pagi. Dan akan tutup sampai lewat tengah malam. Tempat tersebut hanya menjual kopi, kopi susu dan teh. Tidak ada jenis minuman lain. Makanan kecil??? jangan harap. Rata-rata satu cangkir kopi seharga Rp.3.000,-. Kopinya.. cukup enak. Ya paling ndak.. ndak banyak campuran jagungnya.. Masih cukup bisa dinikmati.
Tadinya, saya pikir jika siang siang warung kopi itu akan sepi pengunjung. Namun, perkiraan saya ternyata meleset. Dari pagi, siang dan sore, tetap ada saja yang nongkrong di warung-warung kopi tersebut. Dan jangan tanya jika malam hari, penuhnya itu warung kopi.
Saya lihat, pengunjung memang hanya pesan kopi, ngobrol, berkelompok satu meja. Entah apa yang mereka bicarakan, namun tetep saja saya masih belum bisa mengerti, apa asiknya nongkrong di warung kopi di siang hari bolong begitu.
Lain halnya jika kita nongkrong di warung kopi ala cafe di mal mal, ber AC kan, ndak panas, lihat lalulalang orang orang cantik.
Lha ini, warung kopi dipinggir jalan, panas, berdebu dan....... berkeringat...hahaha

Suatu hari di hari libur, saat saya dan teman saya kebingungan mau ngapain karena hari itu tanggal merah, saya iseng iseng ngajak nongkrong di warung kopi jam 9 pagi.
Dan hasilnya,.......... okeee juga. Beli kopi satu cangkir, bawa satu koran, bawa satu kantong kue kering, nongkronglah kita di warung kopi itu selama 3 jam. wakakakakak!!! Hanya menghabiskan 6 ribu rupiah!
Wah, berapa puluh ribu harus kita habiskan jika ingin nongkrong begini di cafe di Jakarta.
Saya lihat beberapa meja yang terisi, semua berisi orang orang yang saling berbicara satu sama lain, entah diskusi, entah ngegosip entah hanya ber haha hehe... namun yang nongkrong dan baca koran hanya saya berdua teman saya.

Di kali lain, saat saya dengan sengaja mengelilingi kota Pontianak dengan menggunakan kendaraan umum sekitar pukul 1 or 2 siang, saya menemukan banyak warung kopi lain yang ukurannya lebih kecil dari warung warung kopi di jalan Gajah Mada. Dan, di siang bolong seperti itu pun, ternyata ada juga pengunjung warung-warung kopi tersebut. Ada yang berseragam, ada yang lain.
Tidak ada bedanya dengan pagi dan malam hari.
Mayoritas penduduk kota Pontiana, tercermin dari pengunjung warung warung kopi tersebut. Banyak penongkrong warung kopi adalah orang orang Cina, yang sangat akan mustahil kita temukan mereka akan bersedia nongkron di warung kopi pinggir jalan di kota Jakarta, Semarang dan kota kota besar lainnya.

Uniknya lagi, penyajian secangkir kopi di tempat tersebut ditemani oleh sendok bebek logam. Waow!! biasa menyruput kopi dari sendok teh sedikit demi sedikit, jadi menyruput kopi dari sendok bebek. Hihihii!

Friday, August 21, 2009

Pontianak (2)

Baru balik, setelah hampir dua minggu ke kabupaten Ketapang di wilayah Kalbar.
Wah.............
So many stories..
just wait and see...
foto foto??? ada juga, walau dikit. tapi cukup buat obat lelah karena ndak sempat dapat gambar bagus waktu ke sini pertama kali dulu...
...
jadi.....
sabar ya... tak ngerjain kerjaan lainnya dulu.. sambil jalan pasti cerita tentang pontianak dan teman temannya saya tulis

Saturday, August 01, 2009

Pontianak (1)

Hmm baru kemarin saya pulang dari Pontianak, setelah 4 hari tinggal di sana.
Sepanjang perjalanan pulang saya mikir, heran, baru sekali ini saya pergi ke luar kota, tanpa punya oleh oleh satupun gambar.
Entah kenapa mood saya tidak dapat diajak berburu gambar bagus kali ini. Terlalu sekali ya???
Biasanya naluri saya kluyuran selalu ada, di tengah tengah sibuknya jadwal. Tapi entah kenapa, saya merasa kurang bisa bersahabat dengan kota ini.

Coba minggu depan deh, saat saya ke sini lagi, moga moga mood saya mencari obyek bagus tidak tumpul.

Saturday, July 25, 2009

Moloku Kie Raha (4) - Pisang Ambon = Nasi???

Gara-gara tukang ojek takut hantu, akhirnya membuat saya punya pengalaman bermalam di penduduk asli halmahera di wilayah Tobelo tepatnya di Desa Paca.
Rumah tempat saya menginap milik seorang kepala SD di daerah setempat. Cukup besar (yang pasti lebih besar dari rumah saya di Jakarta, cukup bersih dan cukup rapi. Namun masih tetap meninggalkan kesan, keunikan rumah khas setempat.
Dengan hanya baju kaos dan celana jin yang menempel di badan saya, cuek ajalah... habis gimana, ya namanya emergency.

Makan malam bersama mengawali kebersamaan saya dalam keluarga ini. Di meja sudah ada nasi, ikan goreng yang gede gede setumpuk, sambel uleg yang digoreng eh salah, cabe goreng yang diuleg, telur ceplok, dan setumpuk pisang ambon yang sudah direbus. Ikan sudah jadi keharusan untuk penduduk di wilayah ini. Jadi rasanya belum makan kalau tidak makan pake ikan. Walaupun begitu, harga ikan tetep mahal di sini, semahal telur yang dijual per butir seharga Rp.1.500,-

Berhubung di pedalaman menu sehari hari adalah nasi, mi instan dan sarden. Lega rasanya lihat masakan rumahan walau cukup sederhana, namun membuat saya bisa makan dengan nikmat.

Lho, kok si ibu ngambil pisang rebus yang sudah dikupas itu ditaruh piring dan kemudian mengambil ikan goreng???????????? ndak salah!!
Saya pikir, pisangnya adalah pencuci mulut, ternyata dia makanan utama pengganti nasi.
Akhirnya saya coba ambil pisang ambon yang gede gede itu, ternyata rasanya tidak manis, namun gurih.
Nah, ternyata itu pisang ambon yang masih mengkal, diambil dari pohon, direbus bersama santan dan garam. Itu makanan pengganti nasi, mungkin kalo disini ya singkong rebus lah.
Pisang itu dimakan bersama lauk pauk dan sambel yang ada. Dan si ibu itu merasa belum makan kalau belum makan pisang ambon dan ikan.
Saya mau ambil gambarnya ndak enak, kok sepertinya ndak sopan banget ya???
Yang pasti, ini hal baru dalam pengalaman saya tentang kuliner Indonesia, pisang ambon berlauk pauk ikan dan sambal.

Monday, July 20, 2009

Moloku Kie Raha (3) - Tertinggal Ojek

Suatu hari setelah selesai mengunjungi beberapa desa di pedalaman Kao Barat, tiba tiba pendamping saya nyeletuk, bagaimana kalau kita sekalian menuju desa pesisir, mumpung saat itu masih siang.
Akhirnya saya iya kan saja, toh, daripada kembali ke desa pos tempat saya tinggal dan no one there, yang ada saya malah cuma jalan jalan aja. Sementara tugas saya disini kan bukan hanya jalan jalan.

Saya dengan ojek saya langsung menuju ke arah pantai dari pedalaman Kao Barat. Wow... pegel nih pantat, habis boncengannya sama tukang ojek, jadi pegangannya cuma sadel..wakakakak!

Sampai di tepi pantai, saya langsung menuju desa sampel yang telah ditentukan, survey sana survey sini, jepret sana, jepret sini...
Lho... kok tahu tahu sudah maghrib. Menjelang gelap. Gawat.
Mana pendamping saya pake mampir ke rumah dia lagi, ngambil perlengkapan menginap segala.
Gawat. Bisa bisa ketinggalan ojeg yang janjian dengan kita akan membawa kita kembali ke pedalaman hutan nih. wah!!!

Bener aja, tepat sampai di pos ojek tempat kita janjian dengan tukang ojek kita, sudah tidak ada satupun tukang ojek yang ngepos. Gawat! gimana bisa pulang ke base camp nih.
Tukang ojek yang paling dekat tempat tinggalnya dengan pos tersebut dipanggil, tapi dia tidak mau mengantarkan saya dan teman saya ke desa terdalam, alasannya??? barusan ada yang mati gantung diri dekat jembatan minggu kemarin. Gubrag!!!
Tukang ojek? takut hantu?? wakakakak!
Ada ada aja.....

saya dengan penduduk asli Kao, naksir wadah yang digendongnya