Monday, November 28, 2005

Melebur Dosa

Aku masih tergelitik dengan sms salah satu teman saat lebaran kemaren...isinya..
".... bla bla bla... untuk melebur dosa"
..
kata yang membuat aku ingin tahu artinya adalah..."melebur dosa"
....
coba kita bayangkan... jika melebur logam... berarti logam logam dipanaskan kemudian mencair .. itu yang namanya melebur logam... then, biasanya setelah dilebur logam akan dibuat bentuk baru...
jadi yang terjadi adalah terjadinya bentuk baru dari logam logam lama yang dilebur dan dicairkan tersebut..
namun.. esensinya tetap sama... bentuk baru dari suatu barang yang bahan dasarnya tetap logam..

Jadi... kalau kata melebur dosa berarti... gimana dong??
dosa dosa.. disatukan kemudian dilebur... dicairkan untuk kemudian.. dibentuk sesuatu yang baru dari bahan dasar dosa-dosa tersebut... ?????
kalau bahan dasarnya dosa... kira kira bentukan barunya... apa ya?
..
mungkin yang benar bukan kata "melebur dosa" but..."menghapus dosa".

hahaha... mungkin begitu kali ya???!!

tahu ah!!! gelap!!!

Tuesday, November 22, 2005

Cipika Cipiki



Sejujurnya aku ndak begitu setuju dengan kebiasaan cipika cipiki yang ada sekarang ini. Soalnya kadang kadang tidak pada tempatnya..

Namun,.. ingin mengulas panjang lebar di tulisan ini... rada rada enggan.
Aku yakin pasti pendapatku akan dicounter oleh banyak pihak...dan kemudian..
dianggap orang aneh...., bahkan mungkin dianggap a sosial.

Jadi... lebih baik keenggananku akan kebiasaan itu aku pendam saja dalam hati. Walaupun sangat sangat malas aku melakukannya.. namun kadang terpaksa mau kalau sudah disodori pipi pipi itu.....

Ih!!!!

Thursday, November 17, 2005

Hari ini aku dapat sms dari teman kuliah program S2, isinya”
“ass pres RI bth 3 jt sms u. tolak pcabtn SKB2 MENTRI. Jk dcabut, Kristen bbas bangun greja di komntas muslim ketik: TOLAK PENCABUTAN SKB 2 MENTRI ke 9949, Sebarkan!

Sejujurnya, aku prihatin dengan sms sms spt itu. Memang ada masalah apa jika orang Kristen membangun gereja dengan bebas? Toh orang Muslim juga bebas membangun mesjidnya. Bahkan mereka dengan bebas juga minta sumbangan di jalan, di terminal di semua tempat dengan judul pembangunan mesjid tanpa undang undang yang mengatur?

Ada apa dengan orang orang tersebut?
Akan sangat membuat aku sedih, jika kalangan orang yang katanya berpendidikan tinggi, juga ikut ikutan berperan serta dalam membuat kotak kotak dengan eksklusifitasnya.

Buat aku pribadi, apa sih masalahnya dengan orang membangun gereja. Toh, sah sah aja mereka membangun gereja. Mesjid kan juga banyak dibangun di mana mana. Walaupun bangunan tersebut keseringan kosong. Hanya isi jika ada jadwal shalat Jumat saja atau saat hari hari besar Muslim lain.

SMS di atas seolah olah bertujuan orang Kristen tidak boleh membangun gereja di komunitas muslim. Coba kita lihat kata KOMUNITAS MUSLIM. Komunitas muslim spt apa yang mereka maksudkan? Memangnya ada komunitas muslim di Indonesia yang secara eksklusif terpisah dari komunitas lainnya. Hebat banget kalau memang ada. Kalaupun ada, seperti apakah yang namanya komunitas muslim itu? trus, kalau begitu itu, nanti bakalan ada komunitas Kristen, komunitas Buddha, komunitas hindu, dll yang secara jelas terwujud dalam bentuk pemukiman. BEGITU???

Aku pribadi bukannya mau membela orang Kristen yang ingin membangun gereja. Bukan. Namun terlihat aneh aja. Terlihat begitu apa ya? Naif?
Karena buat aku, Kristen, Islam, Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hu Cu, dan lain lain aliran agama, adalah sama sumbernya. Semua bersumber ke yang Maha Satu. Maha Pencipta. Walaupun dengan penyebutan yang berbeda beda. So what gitu lho?
Mengapa harus dipusingkan dengan pengkotak kotak an seperti itu.
Mengapa harus ada yang merasa yang satu lebih baik dari yang lain. Yang satu merasa jadi yang terbaik.
Mengapa?

Keyakinanku mengatakan, semuanya sama derajad dan nilainya di mata Tuhan. Mau orang Islam kek, Kristen kek, Katolik kek, Buddha kek, Hindu kek, mau tekek kek.. semua sama. Ya iyalah.. tekek pun pasti dianggep oleh Tuhan.
Yang membedakan adalah kadar keyakinan masing masing individu. Dan bagaimana mereka merealisasikan kadar keyakinan tersebut dalam perilaku sehari hari.

So… aku masih merasa heran, kalau seseorang yang aku anggap kadar intelektualitasnya cukup tinggi, namun masih menganggap agamanya lebih baik daripada agama lain.
Heran deh. Hari gini masih ngomongin eksklusifitas agama. Makanya sekarang jadi banyak teroris yang berani bunuh diri pake bom ya?

Yang bikin aku sedih, kok ya temen temen itu mau ikut ikut an menyebarkan SMS spt itu. kesenengan operator telepon selular dong. Income mereka jadi naik. Namun yang paling membuat aku prihatin, kok ya mau mereka menyebarkan sms yang sifatnya provokatif begitu.

Wednesday, October 26, 2005

"MET LEBARAN"

Minggu depan sudah lebaran. Buat teman teman yang merayakan lebaran, saya mengucapkan
“Selamat hari raya Idul Fitri 1426 H”
Mohon maaf lahir bathin.

Ya.. siapa tahu ada salah salah kata pas isi blog ini. atau ada yang tersinggung dengan tulisan di blog ini. mohon dimaafkan.
Percayalah, ini semua hanya suatu wacana.

Bagaimana film bagus itu seharusnya?

Beberapa hari lalu sempat nonton film di TV, film dari argentina, judulnya “VALENTIN”. Dan untuk film ini, aku angkat jempol. Bagus.

Ceritanya tentang anak berusia 9 atau 10 tahun yang tinggal bersama neneknya, sedangkan kedua orang tuanya sudah bercerai. Bagaimana si Valentin menghadapi kehidupan sehari harinya, itu yang menarik. Sederhana sih ceritanya, tapi bagaimana ide ceritanya bisa berkembang dengan sangat bagus. Dengan setting keluarga sederhana. Lingkungan yang sederhana pula. Kehidupan yang berjalan terasa begitu wajar, tanpa ada yang diperlihatkan dengan ekstrem. Namun, dari cerita tersebut dapat di tangkap bagaimana seorang anak kecil memandang kehidupan dari kacamata dia. Ternyata begitu jenius. Hal hal yang bagi kita sekedar anak kecil, kalau dilihat dari kacamata dia, ternyata mengagumkan. Endingnya? Juga tidak terlalu dipaksakan untuk menjadi happy ending. Biasa saja, yang seharusnya terjadi. Begitulah.

Film ini mengingatkan aku pada salah satu film produksi dari Iran, tentang seorang anak dari keluarga miskin, yang bahkan untuk sepatunya, ia harus bergantian dengan adik perempuannya. Dan bagaimana ia berusaha untuk dapat diikutsertakan dalam lomba lari yang hadiah ke dua nya adalah sepasang sepatu. Ia hanya ingin mendapat juara ke dua, bukan juara pertama. Apakah yang terjadi saat ia malah menjadi juara pertama, dimana hadiahnya hanya trophy kejuaraan? Ia sedih, karena tidak mendapatkan sepatu tersebut. sementara semua orang mengelu elukannya karena ia menjadi juara pertama dalam pertandingan tersebut.

Sederhana kan tema film nya. Namun buatku, itulah yang seharusnya. Suatu film harus dapat menggambarkan situasi nyata pada masanya. Real life. Selain itu latar belakang suatu peristiwa yang menjadi tema film tersebut dapat juga dijadikan data pendukung untuk mendapatkan gambaran senyatanya, bagaimana kehidupan yang sebenarnya berlangsung pada masa tersebut, bagaimana keadaan suatu kota pada masa tersebut. Hal lain yang membuat suatu film menjadi bagus adalah pengambilan gambar. Faktor tersebut dapat menjadi menjadi hal penting untuk dilihat, selain tema film itu sendiri tentunya.
Bagaimanapun satu hal yang terpenting adalah tidak ada yang dipaksakan “ada”, untuk sesuatu yang seharusnya “tidak perlu ada”.

Kapan ya film Indonesia dapat berwujud seperti film film tersebut. tak perlulah membuat film yang begitu banyak pernik perniknya, dan apalagi jika menjadikan biaya produksi sebuah film menjadi mahal. Yang penting tema cerita dan alur ceritanya tidak membosankan. Dan yang paling penting lagi adalah, ada makna yang tidak dipaksakan dari film tersebut, namun kita secara tidak langsung bisa kita dapatkan setelah menonton suatu film.
Ya.. ada sih beberapa film yang menurutku cukup bagus, namun kebanyakan masih tetap terpoles dengan wajah cantik dan ganteng, kehidupan kelas atas, rumah yang bagus, dapur yang bagus, baju yang wah. Ending yang terlalu dipaksa untuk berakhir dengan baik dan bahagia.

Jujur, aku pribadi sebenarnya senang dengan perkembangan film Indonesia yang saat ini cukup bergerak maju. Setelah cukup lama kosong melompong.
Namun, mengapa kebanyakan film tersebut sepertinya hanya mengikuti selera pasar. Untuk kualitas? Masih jauh.
Mungkin pasar menuntut begitu. Buatku sendiri itu tidak terlalu penting. Toh, aku sendiri tidak tertarik untuk menonton film film tersebut.
Yang pasti aku termasuk orang yang ikut senang karena ada poster film Indonesia yang sering dipasang berdampingan dengan poster film asing di bioskop jaringan 21.