Thursday, December 28, 2006

Catatan Akhir Tahun

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.
(Dikutip dari tulisan suster Theresa)

SELAMAT TAHUN BARU
GOD BLESS YOU ALL

Friday, December 22, 2006

Tulisan tentang para ayah di di HARI IBU

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan
melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah.

"Yah, beras sudah habis loh...", ujar isterinya.

Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya
terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah "Ayah, besok Agus
harus
bayar uang praktek".



Iya..., jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi
bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.


Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam,Besok beliin
lengkeng ya dan saya hanya menjawabnya dengan Insya Allah sambil
berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak
berjinjing
buah kesukaannya itu.



Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang
beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung
dan sedikit berkelakar, Ini, anak siapa minta susunya ke siapa.



Sayapun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke
nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau
tersedia
cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?



Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi
setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang
belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak
bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar
tagihan
listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur,
dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.



Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum,
meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, Iya, nanti semua
Ayah bereskan, meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar
mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.



Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali
gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat
lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan
rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi.



Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan
tidak perlahan-lahan.



Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah
sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi
menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam
penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu
yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.



Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu
rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau
berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak
pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang
Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.



Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan
Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh
disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah
babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa
nafas
terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang
dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi
segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.


Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan
sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya
kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam
setiap
sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali
bersama
pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu
persatu gundah yang masih ia genggam. Ayah yang ini, masih percaya
bahwa
Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada
dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.


Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus
menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan
gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah,
atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang
tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar
massa setelah tertangkap basah mencopet.


Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan
senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan
ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya.



Semoga.



Sumber: Segenggam Gundah (Ode untuk Para Ayah) oleh Bayu Gautama

Thursday, December 07, 2006

Poligami? Halah... lha mbok biarin aja!!! Suka-suka orang!!

Lah...!!!

Lha kok setelah AA Gym kawin lagi. .. kok jadi pada ribut poligami sih..
apa mau orang orang sih....

terus pada ribut PP 10
terus pada bikin diskusi
terus tema pengajiannya pada poligami

seolah olah dan se akan akan poligami itu topik yang menarik dibicarakan.
Yang membuat saya dengan sangat terpaksa bikin ini postingan adalah, gara gara dapat undangan pengajian (padahal ndak biasa biasanya dapat undangan pengajian), terus di sub judul tema tertulis "poligami menurut sunnah rassul.. "
Ini gimana sih orang orang. Kok sukanya latah ya.
Orang Indonesia ini memang suka latah kali.
Dulu pernah ditanya oleh temen laki laki, dia tanya apa pendapat saya tentang poligami. Saya jawab, kalau memang ada alasan yang tepat dan masuk akal, ya silakan aja. Itu pertanyaan diajukan saat buka bersama kemaren...
Eh lha kok sekarang malah poligami jadi topik dimana mana.
Halah!!!!
Lha kok saya jadi nulis tentang poligami juga ya....

Satu saran saya untuk para perempuan Indonesia dan dunia... jadilah perempuan mandiri, mandiri dalam semua semua nya, jadi.. bisa bilang
"Poligami??? Emang Gue Pikirin...??......"
udah ah. berhenti.

Memang ndak ada urusan lain apa? Kok ngeributin poligami.

Daripada ngurus poligami, mending mikirin mobil yang sudah ndak keruan ini. Ya tho???? Ada sukarelawan ??



Tuesday, November 28, 2006

Antara Anyer dan Panarukan ... kita kerja paksa

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, 2005
145 hal.

Membaca buku tersebut diatas jadi teringat penyanyi negeri jiran sana yang melantunkan..
…
Antara Anyer dan Jakarta
Kita jatuh cinta
Antara anyer dan Jakarta…
…


Iya. Lha untung lagunya masih antara Anyer Jakarta, kalau Anyer Panarukan, lha kan jadi cinta rodi.

Kesadaran akan betapa banyak nyawa manusia hilang dalam pembuatan jalan Daendels ini membuat kita sadar, betapa tiada harganya nyawa manusia pada jaman penjajahan Belanda yang ratusan tahun tersebut.
Data jumlah yang sebenarnya tidak pernah terungkap. Jika memang dapat diungkap, pastilah akan menggemparkan dunia, betapa demi sebuah jalan pos, terjadi pembunuhan tidak direncanakan terjadi di pulau Jawa ini.

Mengikuti deskripsi sejak anyer sampai dengan panarukan membuat ingatan kita melayang ke wajah kota kota tersebut yang pernah kita singgahi.
Kota besar. Kota kecil. Kota sedang. Desa kecil. Semua terlintas di benak kita.

Secara keseluruhan, buku ini memang hanya berisi deskripsi kota kota yang dilewati jalan pos tersebut. Sedikit diberi uraian sejarah kota, jika memang terdapat sejarah kota yang dilewatinya. Bahkan diberi sedikit riwayat pembangunan jalan saat melintasi kota tersebut, jika memang ada data sejarah yang mendukung. Namun om pram tidak memberikan detail sejarah kota yang dilewati oleh jalan pos, karena memang bukan hal tersebut focus penulisan buku ini.

Secara sekilas, saya dapat membayangkan bagaimana perkembangan dan perjalanan penulis dalam menyusuri jalan tersebut. Apalagi jalan tersebut adalah jalan urat nadi pulau Jawa bagian utara. Namun satu hal yang meleset dari perkiraan saya. Ternyata jalan pos itu membelok ke selatan setelah sampai Jakarta. Kalau menurut urutan kota kan harusnya lurus ke Cirebon ya?. Ternyata tidak.
Jalan tersebut membelok ke Bogor, Priangan, Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, Karangsembung, dan kemudian Cirebon. Satu bagian jalan yang terkenal sampai sekarang adalah daerah yang disebut Cadas Pangeran di Sumedang. Terkenal karena pembangkangan Pangeran Kornel terhadap Daendels.

Gila memang Daendels itu. Gugur gunung dengan alat alat yang kita tahu sendiri.. belum ada alat berat saat itu untuk membuat jalan baru. Rakyat setempat dikerahkan habis habis sampai titik darah penghabisan demi obsesi Daendels ini.

Dari Cadas Pangeran, jalan menuju ke Cirebon, dan kemudian seterusnya lurus ke arah timur seperti jalan yang kita kenal sekarang ini yang mengarah ke Surabaya.
Pembuatan Jalan dari Tegal mengarah ke timur tidak menemui kesulitan, karena memang dari Tegal hanya meningkatkan dan melebarkan jalan yang ada. Pada saat itu Mataram sudah membuat sarana jalan demi tujuannya untuk ekspansi ke wilayah Barat.

Cirebon menuju Semarang, rutin selalu dilewati semua orang saat akan mudik lebaran. Jadi,..semua orang mengenal masing masing kota yang dilewati.

Anehnya, mengapa Daendels dulu tidak membuat jalan dari Jakarta langsung Cirebon ya???

Dari Semarang sampai Sidoarjo, saya juga beberapa kali melewatinya. Sehingga kota kota kecil yang disebutkan oleh om Pram saya mengenalnya dengan baik. Semua. Kota kota dari semarang ke Surabaya merupakan kota kota yang mempunyai sejarah yang cukup panjang, dan dengan dukungan data sejarah yang akurat juga. Namun, kenyataannya kota kota tersebut mengapa tidak bisa berkembang menjadi lebih besar daripada yang ada sekarang ya?

Saat ini Semarang ke Kudus, jalan yang melintasinya merupakan jalan lebar dan bagus yang merupakan jalan 6 lajur pada beberapa bagian, dan 4 lajur pada beberapa bagian yang lain. Sekilas pandang, merupakan jalan yang asyik untuk dilalui.
Namun begitu keluar dari Kudus mengarah ke Surabaya, jangan ditanya lagi. Jalan dua lajur untuk dua arah. Jadi kita hanya dapat berjalan beriringan sepanjang jalan tersebut. Jika ingin mendahului kendaraan di depan, jangan harap bisa seenaknya. Harus benar benar menunggu jalanan kosong dari arah yang berlawanan.

Mengherankan juga ya, mengingat jalan tersebut kan merupakan jalan utama di bagian utara pulau Jawa.

Om pram, menceritakan sedikit kisah yang terjadi pada masa lalu yang merupakan latar belakang sejarah masing masing kota tersebut.

Betapa kayanya wilayah tersebut jika memang tidak dijadikan rayahan oleh para pengusaha nakal. Dahulu wilayah tersebut dapat memproduksi kapas dalam jumlah besar. Demikian juga kayu jati. Wah…!!!

Sesampainya di Surabaya, jalan tersebut mengarah ke timur melewati Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Besuki dan berakhir di Panarukan. Beberapa kota terakhir saya mungkin pernah melintasinya saat melakukan perjalanan darat ke Bali, namun hanya lamat lamat ingatan akan gambaran kota kota tersebut.

Jadi, begitu panjangnya jalan (lebih kurang 1000 km) yang mengorbankan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan nyawa manusia. Tragedi kerja paksa pada jaman Daendels.
Entah kita harus berterima kasih atau menghujat Daendels untuk programnya tersebut.

Dari berpuluh kota yang dilewati jalan pos tersebut, beberapa kota yang membuat saya tertarik adalah kota kota setelah Kudus yang menuju Surabaya. Saya sering melewati jalan darat dari Semarang ke Surabaya, dan tiap kali melewati jalan tersebut berpuluh tanda Tanya menghiasi benak pikiran saya. Dan saya memang sengaja memilih perjalanan darat dengan mobil daripada dengan kereta api, karena ada perasaan ketertarikan saya dengan kota kota yang terlewati tersebut.

Mengapa? Sepertinya terdapat misteri di balik kota kota kecil yang pada masa lalu mempunyai peranan yang cukup penting bagi eksistensi nusantara ini. coba bayangkan, kota yang di kitab kitab kuno baik dari nusantara maupun dari Cina tertulis dengan jelas dan gagah, sekarang hanya menjadi kota kota persinggahan kecil kurang begitu raya.
Bayangkan saja, Tuban dengan pelabuhan yang besar di masa lalu, bahkan jadi tempat pendaratan pasukan Kubilai Khan yang akan menyerang Singosari. Pati dengan Adipati Pragolanya, dan bahkan cerita Roro Mendut nya juga menjadi trade mark.
Demak dengan Kerajaan Islam pertama nya di Jawa. Jepara dengan pelabuhannya saat Pati unus akan menyerang portugis di melayu sana. Hebat kan?
Sekarang???
Mau menyalip kendaraan yang ada di depannya saja, sulitnya bukan main. Harus urut urutan panjang. Mana kondisi jalannya juga bikin duduk di mobil jadi tidak jenak, karena permukaan jalan yang kurang halus.

Akhirnya, hanya ingatan kerja rodi pembuatan jalan anyer panarukan sajalah yang meninggalkan kesan akan kejamnya Daendels, kejamnya para penjajah Belanda tersebut.
Para penguasa wilayah pada masa tersebut benar benar tidak punya gigi untuk melawan kesewenang wenang an tersebut. Entah mengapa.

Om Pram bilang, bisa jadi kejadian kerja paksa di balik pembuatan Jalan Raya Pos Daendels ini adalah sebuah genosida kemanusiaan paling besar pada masanya.
“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa lain”.

Sekarang???
Bagaimana Indonesia ku saat ini???

Monday, November 27, 2006

NOVEMBER Rain

November Rain by Guns N Roses.

lha.. november udah mau habis... november rain belum dateng juga..
yang ada.. hujan kicik kicik... ndak niat gitu..
tik tik tik... sudah seneng nih... bau tanah yang khas sudah tercium..
eh... baru berapa menit terus berhenti...
gimana sih ini...
mana sumur sudah mengering pula...
....