Friday, March 18, 2005

Sang Waktu

Ada saat dimana kita tersadar, oops! Kok tahu tahu sudah hari jumat lagi. Berarti satu minggu sudah berlalu lagi. Begitu cepat rasanya waktu berlalu tanpa kita nikmati. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu hingga akhirnya tahu tahu tahun sudah lagi berganti.
Waktu benar benar sesuatu yang tidak kita beli namun membuat umur kita semakin habis. Kalau saja kita bisa membeli waktu, maka aku akan membelinya, sehingga aku tetep dapat mengkontrol waktu pada saat saat yang aku nikmati.

NAMUN, ternyata ada saat di mana kita ingin waktu cepat cepat berlalu. Sehingga kita bisa sampai pada saat yang kita inginkan. Mengapa hari hari terasa lama. Mengapa bulan masih tetap bulan maret. Padahal aku ingin cepat cepat berada di bulan bulan yang akan datang.
Kadang kita ingin hari cepat berakhir, karena kadang kadang ada yang ingin kita akhiri. Sehingga kita bisa ada di hari esok lagi. Namun, jika menunggu sesuatu hal yang sangat penting, ingin rasanya hari tidak cepat cepat berakhir. Sehingga apa yang kita tunggu kalau bisa terjadi hari ini juga.
Memang manusia penuh dengan hal hal yang bersifat paradoks.

Dan sekarang, apa yang sedang kutunggu? Sehingga aku merasa ingin cepat cepat meninggalkan bulan maret ini?
Adakah seseorang yang tahu?

Thursday, March 17, 2005


Maaf maaf maaf. Politik Cinta Dasamuka. Graha Bhakti Budaya 2 - 14 Maret 2005 Posted by Hello

UNTUK IGO

Mengkounter tulisan seorang teman tentang jilbab, ingin rasanya aku berbicara panjang lebar tentang masalah yang satu ini.
Jilbab atau hijab. Harus didefinisikan terlebih dahulu ada definisi pakaian jilbab itu sendiri.
Dan dalam kondisi yang bagaimana orang memakai jilbab.
Nah setelah jelas bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi pada seseorang setelah ia memakai jilbab, maka akan dapat jelas bagaimana kita memaknai dan mencoba memandang orang berjilbab.
Buat saya pribadi, jilbab tidak terlalu penting. Namun kan belum tentu untuk orang lain. Ya kan?
Jilbab adalah salah satu mode pakaian. Yang orang bisa berganti mode kapan saja ia suka. Jadi tidak akan masalah misalnya bulan ini di rajin pakai jilbab, nanti besok ganti tank top, besoknya lagi mau pake kebaya, nanti malem mau pake u can see.
Simple kan?
Namun dalam kondisi masyarakat Indonesia yang notabene sebagian besar adalah orang orang munafik (note: munafik adalah orang yang melakukan hal hal yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya). Maaf, kalau ada yang tersinggung atas statement tersebut.
Untuk orang Indonesia sendiri, sebagian besar orang memaknainya sebagai pakaian yang mencerminkan bahwa pemakainya adalah muslimah yang (mungkin) benar benar muslim. Sebagian orang yang memakai jilbab berpendapat bahwa ia memakai jilbab karena ia sudah siap dengan segala konsekuensi pemakaian jilbab tersebut.
Mau jujur?
Ini kenyataan, sebagian besar orang yang memakai jilbab mengaku mengambil banyak pertimbangan sebelum memakai jilbab. Baru setelah ia yakin dan siap, barulah ia memakai jilbab dalam kesehariannya.
Berarti?
Keputusan memakai jilbab merupakan sesuatu yang cukup penting dalam hidup seseorang. Dan saat ia memutuskan mencopot jilbabnya, itu juga merupakan keputusan yang cukup penting juga.
Jadi?
Statement saya diatas tentang jilbab yang hanya merupakan salah satu jenis mode TIDAK BERLAKU.

So,… berarti ndak salah juga dong kalau aku pribadi melihat orang berjilbab, otomatis aku akan berpikir bahwa si pemakai ini pasti orang yang sudah menaati kewajiban kewajiban dalam syariat islam. Contoh gampangnya: minimal ia sholat lima kali sehari. Ya kan?
Pastilah ia tidak akan melakukan hal hal yang ada diluar garis normal yang ada di syariah islam. Misalnya: pacaran di pinggir jalan, apalagi melakukan hubungan seks pra nikah.
Betul ndak?
(walaupun dalam kenyataan sehari hari, hal tersebut bener bener bertolak belakang).

Jadi Igo yang baik, apa yang salah dengan kita. Dengan masyarakat kita.

Sepertinya sekarang ini banyak orang yang muna. Banyak sekali. Ndak tua ndak muda. Makanya saya termasuk salah satu orang yang tidak setuju dengan aturan sekolah negeri yang mewajibkan muridnya memakai baju koko dan memakai kerudung plus rok panjang pada hari Jumat.
Itu benar benar keputusan yang ndak masuk akal. Apakah kita akan membuat pakaian pakaian tersebut jadi pakaian nasional. Tidak kan?
Hal tersebut hanya membuat murid-murid jadi seorang penipu. Menipu diri sendiri. Menipu orang lain.
Makanya, aku salah adalah satu orang yang akan memindahkan anakku dari sekolahnya, kalau sekolah yang bersangkutan juga akan mewajibkan muridnya berpakaian seperti itu pada hari Jumat. Mendingan sekolah di sekolah Kristen saja sekalian. Beres. (untung sekolahnya tidak begitu). Karena kalau memang aku pengin anakku berpakaian muslim, aku akan menyekolahkannya ke sekolah islam saja sekalian.

Jadi, kalau menurut igo dalam tulisannya tersebut bahwa orang Indonesia cenderung mengurusi hal yang remeh remeh. Itu benar juga. Setuju aku.
Namun sebenarnya, masyakarat luas tidak akan mengurusi hal tersebut kalau media tidak mem blow up masalah tersebut. So, sebenarnya terjadi pembodohan masyarakat. Masyarakat dibentuk jadi orang nyinyir oleh media. Oleh produser infotainment yang ampun gebleknya. (heran aku juga.. apa produser infotainment tidak punya kepekaan dan kesadaran bahwa ia telah membodohi masyarakat??).
Semua hal hal kecil saja bisa jadi besar kalau sudah terpegang oleh orang orang tersebut. Ampun.
Memang aneh orang Indonesia ini.

Mau dilihat dalam skala yang lebih luas lagi?... kita lihat anggota DPR, kita lihat para pejabat, kita lihat para artis yang sok selebritis, kita lihat preman preman kelas teri, kita lihat kyai kyai dengan mobilisasi massanya, kita lihat para pengusaha dengan kkn nya, dan banyak hal lainnya yang terjadi.

Jadi HIDUP orang orang yang tidak munafik. Yang mengatakan benar adalah yang benar dan salah adalah salah.

Monday, March 14, 2005

S - R - I - K - A - Y - A

Keluar dari kota Tuban menuju Lamongan, banyak terdapat penjual buah srikaya. Wah, cukup surprise, karena seperti disadarkan bahwa aku sudah bertahun tahun tidak pernah menikmati buah yang satu ini.
Kalau aku ingat ingat, sepertinya di toko buah, di supermarket, or di pedagang kaki lima di sepanjang kalimalang, tidak ada yang menjual srikaya. Iya. Benar. Baru aku tersadar bahwa srikaya termasuk buah yang tidak popular dikonsumsi oleh masyarakat.
Teringat aku saat kecil, buah srikaya termasuk buah yang gratis. Hehehe, karena selalu ada tetangga yang memiliki pohon srikaya, dan kita anak anak boleh minta dengan gratis.
Sekarang?... boro boro pohon srikaya, lahan tanah saja sudah minim, mana bisa nanam pohon. Palingan juga pohon tomat ditanam di pot.
Ah, ternyata perjalanan darat semarang Surabaya cukup mengasyikkan, mengingat daerah itu bukan wilayah jajahanku setiap tahun. Jadi sekali kali lewat daerah tersebut cukup memberikan pengalaman yang menarik.
Tentang buah srikaya itu sendiri, mengapa bisa tidak banyak didapatkan di Jakarta? Mungkin karena factor buah itu sendiri yang tidak dapat bertahan lama. Kalau buah tersebut matang, biasanya langsung lembek dan lepas satu persatu buahnya. Bisa jadi itu yang menyebabkan srikaya tidak mudah dijumpai di hypermarket or di supermarket dan di toko toko obat.. .. eh salah. Toko buah.

Monday, March 07, 2005

MAAF, MAAF, MAAF

Pentas teater koma di bulan maret ini berjudul seperti tersebut di atas.
Kalau ambil tiket yang 25rb, cuma dapat satu maaf.
jika ambil tiket yang 50 rb, dapat dapat dua maaf.
Dan jika beli tiket VIP baru bisa dapet tiga maaf.
(bercanda..)

Tidak ada yang baru dari pentas mereka. Masih tetap sama dengan dua terdahulu yang pernah aku lihat, tetap penuh dengan muatan kritik kritik kepada pemerintah. Pantas saja, pementasan pertama lakon ini dulu pernah di cekal oleh pemerintah sekitar tahun 1978 an. Sekarang saja masih tetap up to date isinya.
Its mean?
Tidak ada yang berubah dalam masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Kecuali soal keberanian bersuara saja yang berubah total. Dari yang dikekang dan sekarang yang jadi vokal dan bahkan kebablasan.
Itu saja yang berubah semenjak rezim Soeharto tumbang.
Lainnya….
Nol besar… tambah parah deh malahan sekarang.
Era globalisasi dan informasi telah membuat semuanya serba kebablasan kalau masing masing tidak mempunyai rem terhadap diri sendiri, terhadap visi dan misinya.
..
tentang lakon yang dipentaskan teater koma saat ini, yang settingnya sama" dengan lakon mereka yang Republik TOGOG, terus terang,… aku lebih suka sarpakenaka yang di republik togog daripada di "maaf maaf maaf kali ini. walaupuan pemerannya jauh lebih cantik yang sekarang.. namun si sarpakenaka yang dulu diperankan oleh pria ternyata jauh lebih… berkesan buat imajinasiku.
lebih... mengena.. lebih raksasa.. hahaha...