Menurutmu, mana yang paling menentukan hidupmu di masa yang akan datang, takdir, kesempatan, atau pilihan?
Pilih salah satu, dan berikan alasanmu.
Sunday, November 28, 2004
Tuesday, November 09, 2004
Sehari penuh bersama anak anak
Sehari penuh saya di rumah, tanpa asisten, membawa ingatanku kepada salah satu teman terbaik saya waktu kos di yogyakarta. Sebenarnya saya sudah kenal dia sejak satu sekolah waktu SMP, namun baru mengenal dia dengan baik setelah kami sama sama satu kos waktu kuliah di Yogyakarta.
Satu ingatan yang tetap ada sampai sekarang adalah, dia benar benar seseorang yang teladan. Teladan dalam arti sepenuhnya. Waktu SMP dia sudah masuk 5 besar dari satu sekolah yang jumlahnya per angkatan sekitar 600 an anak. Kemudian waktu SMA saya dengar dengar pula, dia tetap jadi 5 besar pula di salah satu SMA favorit di Semarang.
Setelah satu kos dengan dia, saya akui, memang dia patut dijadikan teladan. Tekun. Baik hati. Ramah. Entah, saya belum dapat menemukan kekurangan dari dirinya. Sebagai seorang perempuan, dia memang benar benar seorang perempuan sejati.
Waktu kuliah, dia sempat jadi teladan juga di fakultasnya, dengan IP yang lumayan tinggi, dan kegiatan asistensi dia yang seabreg membuat saya hanya dapat angkat jempol untuk teman yang satu ini. Tidak tergoda sedikitpun untuk hal hal yang bersifat hura hura sebagaimana layaknya anak kuliahan.
Dan setahu aku pula, yang naksir ke dia itu lumayan banyak, dan biasanya anak pinter pinter juga. Namun dia lebih memilih anak ITB Bandung sejak tahun kedua kuliah.
..
sampai sekarang, setelah usia kita sama sama menuju ke kepala 4. saya tetap masih angkat jempol untuk dia. Belum berubah.
Dengan kapasitas dia yang lebih itu, sebenarnya pasti akan banyak kesempatan dia untuk berkarir. Namun dia lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Salut. Dan sepertinya dia menikmatinya (entah benar atau tidak). Walaupun mamanya pernah sedikit komplain, karena merasa anaknya itu pandai, namun tidak mau memanfaatkan kepandaiannya dan apa yang telah didapatnya selama menuntut ilmu.
Mamanya, mungkin tidak menyadari, bahwa anak anak butuh suatu bekal yang bagus juga untuk masa depannya, dan seorang ibu yang pandai, pastilah akan mempersiapkannya dengan sebaik baiknya.
Mungkin banyak hal yang dia rencanakan untuk masa depannya bersama keluarganya. Mendidik anak anak untuk mendapatkan hal hal yang memang layak didapatkan. Dengan dua orang tua yang sama sama pintar, bukan tidak mungkin anaknya akan jadi jenius.
…
apa yang saya bayangkan adalah, bagaimana seseorang dengan kemampuan yang begitu lebih, mampu menghadapi dan menekan segala keinginannya demi sesuatu yang namanya KELUARGA. Sementara saya, dengan kemampuan yang pas pas an, namun merasa sok sok an, dengan merasa selalu tidak betah dengan kegiatan domestik rumah tangga. Merasa itu merupakan beban yang cukup menyita banyak emosi.
..
Sepertinya tetap saja, teman itu akan menjadi teladan bagiku. Untuk berusaha menikmati dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa selalu protes untuk hal hal yang seharusnya memang menjadi tanggung jawabku, bukannya job para asisten di rumah.
Satu ingatan yang tetap ada sampai sekarang adalah, dia benar benar seseorang yang teladan. Teladan dalam arti sepenuhnya. Waktu SMP dia sudah masuk 5 besar dari satu sekolah yang jumlahnya per angkatan sekitar 600 an anak. Kemudian waktu SMA saya dengar dengar pula, dia tetap jadi 5 besar pula di salah satu SMA favorit di Semarang.
Setelah satu kos dengan dia, saya akui, memang dia patut dijadikan teladan. Tekun. Baik hati. Ramah. Entah, saya belum dapat menemukan kekurangan dari dirinya. Sebagai seorang perempuan, dia memang benar benar seorang perempuan sejati.
Waktu kuliah, dia sempat jadi teladan juga di fakultasnya, dengan IP yang lumayan tinggi, dan kegiatan asistensi dia yang seabreg membuat saya hanya dapat angkat jempol untuk teman yang satu ini. Tidak tergoda sedikitpun untuk hal hal yang bersifat hura hura sebagaimana layaknya anak kuliahan.
Dan setahu aku pula, yang naksir ke dia itu lumayan banyak, dan biasanya anak pinter pinter juga. Namun dia lebih memilih anak ITB Bandung sejak tahun kedua kuliah.
..
sampai sekarang, setelah usia kita sama sama menuju ke kepala 4. saya tetap masih angkat jempol untuk dia. Belum berubah.
Dengan kapasitas dia yang lebih itu, sebenarnya pasti akan banyak kesempatan dia untuk berkarir. Namun dia lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Salut. Dan sepertinya dia menikmatinya (entah benar atau tidak). Walaupun mamanya pernah sedikit komplain, karena merasa anaknya itu pandai, namun tidak mau memanfaatkan kepandaiannya dan apa yang telah didapatnya selama menuntut ilmu.
Mamanya, mungkin tidak menyadari, bahwa anak anak butuh suatu bekal yang bagus juga untuk masa depannya, dan seorang ibu yang pandai, pastilah akan mempersiapkannya dengan sebaik baiknya.
Mungkin banyak hal yang dia rencanakan untuk masa depannya bersama keluarganya. Mendidik anak anak untuk mendapatkan hal hal yang memang layak didapatkan. Dengan dua orang tua yang sama sama pintar, bukan tidak mungkin anaknya akan jadi jenius.
…
apa yang saya bayangkan adalah, bagaimana seseorang dengan kemampuan yang begitu lebih, mampu menghadapi dan menekan segala keinginannya demi sesuatu yang namanya KELUARGA. Sementara saya, dengan kemampuan yang pas pas an, namun merasa sok sok an, dengan merasa selalu tidak betah dengan kegiatan domestik rumah tangga. Merasa itu merupakan beban yang cukup menyita banyak emosi.
..
Sepertinya tetap saja, teman itu akan menjadi teladan bagiku. Untuk berusaha menikmati dan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Tanpa selalu protes untuk hal hal yang seharusnya memang menjadi tanggung jawabku, bukannya job para asisten di rumah.
Tuesday, November 02, 2004
LAJANG MELAYANG
Kemaren buka puasa bersama dengan temen temen dari ui. Banyak informasi masuk. Ada yang menyedihkan,menggelikan, mengecewakan, menyenangkan.
Tapi diantara semua kabar itu, cerita tentang Nuria yang mendapat bea siswa ke Perancis, itu yang paling bikin iri. Tapi bukan sirik. Karena aku senang dia akhirnya mendapatkan sponsor ke Perancis.
Jadi inget pembicaraan pembicaraan dengan dia di saat lalu.
Aku selalu iri dengan kehidupannya, namun heran, kenapa dia juga iri dengan kehidupanku. Benar kata orang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput di halaman sendiri (memang kambing???!).
Aku selalu iri dengan kemandiriannya dalam hidup. Ia dapat pergi kemana ia ingin pergi, bahkan dalam keterbatasannya.
Jadi setiap kali ia mendapatkan uang, ia akan menggunakannya untuk pergi ke mana ia suka. Keliling Eropa, until she drop. hehe...
Ke Amerika. cuma berbekal undangan seminar, tiket pp dari sponsor, dan kartu kredit. no cash.
Wah... asyiknya. Jiwa petualangnya bener bener kuat.
Sampai suatu hari ia bercerita bahwa ia ingin meneruskan sekolah ke Perancis, namun karena umurnya sudah lebih dari 35 tahun, ia sudah sangat susah untuk mendapatkan sponsporship dengan jalur biasa. Harus dengan jalur luar biasa.
Ia sangat ingin mewujudkan apa yang diinginkannya. Alasannya?
Dengan keadaan sekarang, apa lagi yang harus ia capai. Hanya prestasi akademik yang bisa dibanggakannya, prestasi pribadi yang harus dicapainya. Ia merasa lajang di usianya. Hanya gelar PhD yang bisa dipersembahkan untuk orang tuanya.
Dan terus terang... aku sangat sangat iri dengan kebebasannya dalam mengambil keputusan. Namun aku juga sangat gembira ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Bea siswa untuk ambil Visual Anthropology di Paris.
Alangkah indahnya dunia ini, jika kita bisa menjadi diri kita sendiri.
Kapankah aku dapat mewujudkan segala apa yang diinginkan, karena sudah terikat dengan nyawa ibu kota yang seperti ibu tiri ini.
Tapi diantara semua kabar itu, cerita tentang Nuria yang mendapat bea siswa ke Perancis, itu yang paling bikin iri. Tapi bukan sirik. Karena aku senang dia akhirnya mendapatkan sponsor ke Perancis.
Jadi inget pembicaraan pembicaraan dengan dia di saat lalu.
Aku selalu iri dengan kehidupannya, namun heran, kenapa dia juga iri dengan kehidupanku. Benar kata orang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput di halaman sendiri (memang kambing???!).
Aku selalu iri dengan kemandiriannya dalam hidup. Ia dapat pergi kemana ia ingin pergi, bahkan dalam keterbatasannya.
Jadi setiap kali ia mendapatkan uang, ia akan menggunakannya untuk pergi ke mana ia suka. Keliling Eropa, until she drop. hehe...
Ke Amerika. cuma berbekal undangan seminar, tiket pp dari sponsor, dan kartu kredit. no cash.
Wah... asyiknya. Jiwa petualangnya bener bener kuat.
Sampai suatu hari ia bercerita bahwa ia ingin meneruskan sekolah ke Perancis, namun karena umurnya sudah lebih dari 35 tahun, ia sudah sangat susah untuk mendapatkan sponsporship dengan jalur biasa. Harus dengan jalur luar biasa.
Ia sangat ingin mewujudkan apa yang diinginkannya. Alasannya?
Dengan keadaan sekarang, apa lagi yang harus ia capai. Hanya prestasi akademik yang bisa dibanggakannya, prestasi pribadi yang harus dicapainya. Ia merasa lajang di usianya. Hanya gelar PhD yang bisa dipersembahkan untuk orang tuanya.
Dan terus terang... aku sangat sangat iri dengan kebebasannya dalam mengambil keputusan. Namun aku juga sangat gembira ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Bea siswa untuk ambil Visual Anthropology di Paris.
Alangkah indahnya dunia ini, jika kita bisa menjadi diri kita sendiri.
Kapankah aku dapat mewujudkan segala apa yang diinginkan, karena sudah terikat dengan nyawa ibu kota yang seperti ibu tiri ini.
Labels:
rerasan
Saturday, October 30, 2004
CHANNEL RADIO FAVORIT
Akhirnya, setelah beberapa minggu mencari cari, aku mendapatkan kembali teman setiaku dalam perjalanan di kala siang dan sore hari. Awalnya aku menemukannya karena seorang teman yang merasa itu menjadi channel radio favorit selama ia di Jakarta. Selama seminggu ia di Jakarta, itulah channel radio yang selalu menemani dikala kita sedang berkendara.
Namun, akibat kebijasanaan perubahan semua gelombang bagi semua stasiun radio di Jakarta beberapa waktu lalu (hampir 2 bulan lalu), aku kehilangan gelombang radio tersebut. Berkali kali aku eksplor semua channel radio yang ada, namun tidak ada yang match dengan stasiun favorit tersebut. Apalagi, bodohnya aku, nama stasiun radio tersebut juga aku tidak tahu, karena hampir dalam sepanjang hari siarannya, tidak ada seorang penyiarpun yang mengguide radio tersebut.
Akhirnya setelah cukup lama mengkutak kutik semua stasiun radio, menyerahlah aku, dan aku ingat,… pernah ada di milis seorang teman memberikan list perubahan gelombang. Bodohnya. Kenapa tidak dari awal menggunakan informasi tersebut.
Sekarang, sudah kutemukan kembali gelombang tersebut, dan aku juga jadi tahu nama stasiun radio tanpa iklan dan tanpa penyiar tersebut, yaitu DRABA FM. Dulu ada di 88,3 FM namun sekarang move to 99,9 FM.
Thanks God, ada lagu-lagu asyik yang setia menemani di tengah keribetan lalu lintas Jakarta.
Dan untukmu teman terbaikku , kalau kamu ke Jakarta lagi, kita bisa dengarkan lagi stasiun radio favorit kita.
Namun, akibat kebijasanaan perubahan semua gelombang bagi semua stasiun radio di Jakarta beberapa waktu lalu (hampir 2 bulan lalu), aku kehilangan gelombang radio tersebut. Berkali kali aku eksplor semua channel radio yang ada, namun tidak ada yang match dengan stasiun favorit tersebut. Apalagi, bodohnya aku, nama stasiun radio tersebut juga aku tidak tahu, karena hampir dalam sepanjang hari siarannya, tidak ada seorang penyiarpun yang mengguide radio tersebut.
Akhirnya setelah cukup lama mengkutak kutik semua stasiun radio, menyerahlah aku, dan aku ingat,… pernah ada di milis seorang teman memberikan list perubahan gelombang. Bodohnya. Kenapa tidak dari awal menggunakan informasi tersebut.
Sekarang, sudah kutemukan kembali gelombang tersebut, dan aku juga jadi tahu nama stasiun radio tanpa iklan dan tanpa penyiar tersebut, yaitu DRABA FM. Dulu ada di 88,3 FM namun sekarang move to 99,9 FM.
Thanks God, ada lagu-lagu asyik yang setia menemani di tengah keribetan lalu lintas Jakarta.
Dan untukmu teman terbaikku , kalau kamu ke Jakarta lagi, kita bisa dengarkan lagi stasiun radio favorit kita.
Tuesday, October 26, 2004
FASISME YANG SALAH KAPRAH
Apakah fasisme itu sebenarnya… maksudku.. arti yang sebenar benarnya.
Kebingungan itu menderaku untuk selalu mencari. Dan ternyata, memang banyak hal membingungkan pada konsep itu.
Keinginan untuk mengerti lebih dalam muncul setelah aku membaca “FONTAMARA” karya Ignazio Silone yang diterbitkan oleh yayasan Obor. Karya dengan setting wilayah Italia Selatan ini sangat mengusikku. Karena istilah fasis di buku tersebut agak berbeda dengan fasis yang ada dalam benakku selama ini.
Sepengetahuanku, fasisme adalah prinsip atau paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter. Berarti orang yang fasis adalah orang yang menganut paham fasisme tersebut.
Dalam benakku, militer sangat dominan dalam pemerintahan yang fasis. Namun ternyata, bisa juga tanpa militer orang menjadi sangat fasis. Memakai orang sipil untuk dijadikan milisi.
Sebenarnya dalam banyak hal, fasisme tidak hanya berbalut militer, namun, tanpa balutan militerpun seorang dapat dianggap fasis jika dalam hal cara berpikir dan cara pencapain tujuannya menggunakan cara yang otoriter.
Its mean.. saat presiden Suharto menjabat, boleh dibilang saat itu fasisme juga terjadi, namun dalam balutan demokrasi pancasila.
Seorang sahabat memberikan beberapa masukan tentang fasisme itu sendiri kepadaku. Dan menurutku masuk akal juga apa yang ditulisnya tersebut.
Ia membantuku mencari jawaban dengan mengirimkan beberapa catatan berikut:
14 Karakter Fasisme
Dr. Lawrence Britt seorang Pengamat politik, pada tahun 2003 menulis
artikel mengenai Fasisme pada majalah Free Inquiry, sebuah tabloid
kemanusiaan, Ia mempelajari beberapa rejim fasis dari tokoh2 seperti :
Hitler di Jerman, Mussolini di Itali, Franco di Spanyol, Suharto di
Indonesia dan Pinochet di Chili.
Dia berpendapat bahwa semua rejim memiliki 14 kesamaan dan menamakannya
sebagai karakter fasisme, dan inilah ke 14 Ciri rejim Fasisme :
1. Nasionalisme yang berlebihan, Fasisme cenderung memanfaatkan
slogan2 patriotik, motto, symbol dan lagu secara konstan, Lambang
partai
pada bendera, baju dan baliho di tempat2 umum.
2. Tidak menghargai dan memandang Hak Asazi Manusia ? Dikarenakan
rasa khawatir dan ketakutan akan digulingkan, pelaku Fasisme mencoba
meyakinkan bahwa HAM dapat diabaikan dalam beberapa kasus yang
?tertentu? sesuai kebutuhan,
3. Kebencian terhadap satu Golongan sebagai kambing hitam, Massa
dipersatukan dalam satu partai yang patriotik agar dapat meng-eliminir
ancaman2 terhadap perpecahan seperti : Rasial, kesukuan, Agama ( SARA
).
4. Pemberian kekuatan lebih pada Militer ? Tentara dan Militer
mendapat posri yang lebih dari pemerintah
5. Dominasi Gender ? Pemerintah atau Negara yang fasis akan
cenderung didominasi secara eksklusif oleh gender laki2, Disinilah (
terutama di Indonesia, sebagai negara yang mayoritas muslim ) peran
laki
laki menjadi sangat dominan dan kaku dalam berbagai aspek. Aborsi dan
Homoseksualitas mendapat tentangan keras dalam kebijaksanaan negara.
6. Kontrol terhadap Mass Media - Media dikontrol secara langsung
oleh Pemerintah, atau dikontrol secara tidak langsung melalui peraturan
pemerintah, atau lembaga sensor yang kuat.
7. Obsesi terhadap Keamanan Nasional yang berlebihan ? Rasa takut
dijadikan sebagai alat motivasi utama bagi masyarakat.
8. Agama dan Pemerintah sangat bertalian satu sama lain ?
Pemerintahan Fasis cenderung mempergunakan agama untuk memanipulasi
pendapat umum, Terminologi retorikal agama sering digunakan sebagai
pendukung keinginan dan tindakan pemerintah.
9. Perlindungan terhadap Corporate Power ? Aristrokasi Bisnis dan
Industri dari sebuah pemerintahan fasis adalah bisnis dan industri yang
menciptakan keuntungan mutual kepada para pelaku bisnis, pemerintah dan
elit politik.
10. Tekanan keras terhadap Kekuatan Buruh ? Buruh adalah musuh paling
besar bagi pemerintahan fasis oleh karena itu harus dilenyapkan, atau
ditekan sedemikian rupa agar tidak berdaya.
11. Kaum Intelektual and Seni tidak dihormati ? Negara fasis cenderung
menekan kaum intelektual di kalangan akademis, Kaum intelektual yang
dianggap membahayakan bisa disensor atau ditangkap, Demikian juga
dengan
Seniman.
12. Obsesi terhadap Kejahatan dan Hukuman ? Dibawah Rejim fasis, Polisi
diberikan wewenang khusus dalam aksi ?menegakkan? atau memaksakan
hukum,
sehingga ditakuti oleh masyarakat.
13. Korupsi dan KKN yang merajalela ? Rejim Fasis hampir selalu
merupakan kelompok sahabat, teman, saudara yang ditunjuk untuk
menempati
posisi2 strategis di pemerintahan yang saling melindungi satu sama
lain.
Sumber daya Nasional, Kekayaan negara dikorupsi atau bahkan dicuri oleh
mereka
14. Pemilihan Umum yang diatur ? Pada Negara Fasis, Pemilihan umum
adalah sandiwara besar yang selalu berakhir dengan bahagia, dimana para
pelaku fasisme akan selalu menjadi pemenang, kecurangan dan pemaksaan
menjadi hal yang biasa pada masa pemilihan umum, Lembaga2 legistasi
digunakan untuk mengontrol jumlah pemilih dan banyaknya suara, termasuk
pula didalamnya manipulasi media masa.
Terdengar tidak asing? ya itulah dia.. jadi Indonesia ini Fasis apa
ndak?
Gini, sebagai bahan perbandingan aja deh, kalau ditilik2 sama aku
sebenernya fasisme tidaklah selalu berkonotasi buruk.. sama seperti
marxisme, komunisme.. fasisme pun sebenarnya beranjak dari keinginan
untuk membangun suatu komunitas yang sempurna / baik, hanya saja pada
akhirnya selalu saja ada distorsi kekuasaan yang mengakibatkan lahirnya
konotasi2 buruk dan melahirkan suatu rejim yang mengerikan?
Coba bandingkan Konsep fasisme AWAL yang diciptakan oleh Mussolini
untuk
italia pada perang dunia kedua ( sorry pake bahasa inggris sesuai
aslinya ) :
? Not many people ever realize that Benito Mussolini and his Fascist
Party were against abortion, birth control, pornography, secret
societies, unnatural sex and a host of other spiritually debilitating
maladies that our liberal society now accepts as normal life in this
materialistic and hedonistic society.
Under Fascism the educational system of Italy had been entirely
remodelled. Before the "Fascist Era" schools emphasized the making of
clerks and 'white collar' workers, with a contempt for manual labor, to
that of making mechanics with a pride in craftmanship. Under Mussolini
the schools were defined as being "spiritual, intellectual, aesthetic
and practical". Students were taught that being a farmer or a mechanic
was everybit as noble an occupation as being a lawyer, doctor or
teacher.
Mussolini had looked upon the cinema with a critical eye and found it a
possible sourse of corruption and instituted a more rigid censorship of
films than any other country in Europe. And who did the censoring?
Mussolini? The Fascist Party? Neither one. Actually it was the Italian
mothers of the community. It was merely Fascism once again proving it's
knowledge of human nature: the mother is instinctively Puritan. Films
with any hint of lewdness were forbidden to all; to children in
addition
was denied, the sight of films which had a motif of passion or of
crime.
Romantic films were allowed but the content had to be kept clean and
decent.
Pornographic books, newspapers and pictures were banned and anything
which obviously sought to attract by lewdness alone. Children were
forbidden tobacco products before the age of fifteen. Gambling casinos
were also forbidden and the state instituted a lottery system to fulfil
a person's desire to gamble while at the same time providing a source
of
income to the nation for social services. Any bar knowingly serving
alcohol to minors had their establishment smashed and a little corporal
punishment administered to the offending proprietor and or bartender by
a squad of Black Shirts, as crude as it may sound, it kept court costs
down and the repetitive rate of offenses low. To top it off,
Mussolini's
Fascist regime was the first to eliminate organized crime (the mafia)
and the immorality it fostered. ?
Nah? ternyata ndak seperti yang kita sangka ya? haya sekali lagi..
hehehe orang indonesia itu suka pake kata2 yang terdengar ? wah! ?
dalam
mengekspresikan sesuatu ( hiperbolis ), sembari gak tau bener makna dan
definisi kata tersebut? so? be wise.. hati hati sama kata2 yang tidak
kita kenali
Kebingungan itu menderaku untuk selalu mencari. Dan ternyata, memang banyak hal membingungkan pada konsep itu.
Keinginan untuk mengerti lebih dalam muncul setelah aku membaca “FONTAMARA” karya Ignazio Silone yang diterbitkan oleh yayasan Obor. Karya dengan setting wilayah Italia Selatan ini sangat mengusikku. Karena istilah fasis di buku tersebut agak berbeda dengan fasis yang ada dalam benakku selama ini.
Sepengetahuanku, fasisme adalah prinsip atau paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter. Berarti orang yang fasis adalah orang yang menganut paham fasisme tersebut.
Dalam benakku, militer sangat dominan dalam pemerintahan yang fasis. Namun ternyata, bisa juga tanpa militer orang menjadi sangat fasis. Memakai orang sipil untuk dijadikan milisi.
Sebenarnya dalam banyak hal, fasisme tidak hanya berbalut militer, namun, tanpa balutan militerpun seorang dapat dianggap fasis jika dalam hal cara berpikir dan cara pencapain tujuannya menggunakan cara yang otoriter.
Its mean.. saat presiden Suharto menjabat, boleh dibilang saat itu fasisme juga terjadi, namun dalam balutan demokrasi pancasila.
Seorang sahabat memberikan beberapa masukan tentang fasisme itu sendiri kepadaku. Dan menurutku masuk akal juga apa yang ditulisnya tersebut.
Ia membantuku mencari jawaban dengan mengirimkan beberapa catatan berikut:
14 Karakter Fasisme
Dr. Lawrence Britt seorang Pengamat politik, pada tahun 2003 menulis
artikel mengenai Fasisme pada majalah Free Inquiry, sebuah tabloid
kemanusiaan, Ia mempelajari beberapa rejim fasis dari tokoh2 seperti :
Hitler di Jerman, Mussolini di Itali, Franco di Spanyol, Suharto di
Indonesia dan Pinochet di Chili.
Dia berpendapat bahwa semua rejim memiliki 14 kesamaan dan menamakannya
sebagai karakter fasisme, dan inilah ke 14 Ciri rejim Fasisme :
1. Nasionalisme yang berlebihan, Fasisme cenderung memanfaatkan
slogan2 patriotik, motto, symbol dan lagu secara konstan, Lambang
partai
pada bendera, baju dan baliho di tempat2 umum.
2. Tidak menghargai dan memandang Hak Asazi Manusia ? Dikarenakan
rasa khawatir dan ketakutan akan digulingkan, pelaku Fasisme mencoba
meyakinkan bahwa HAM dapat diabaikan dalam beberapa kasus yang
?tertentu? sesuai kebutuhan,
3. Kebencian terhadap satu Golongan sebagai kambing hitam, Massa
dipersatukan dalam satu partai yang patriotik agar dapat meng-eliminir
ancaman2 terhadap perpecahan seperti : Rasial, kesukuan, Agama ( SARA
).
4. Pemberian kekuatan lebih pada Militer ? Tentara dan Militer
mendapat posri yang lebih dari pemerintah
5. Dominasi Gender ? Pemerintah atau Negara yang fasis akan
cenderung didominasi secara eksklusif oleh gender laki2, Disinilah (
terutama di Indonesia, sebagai negara yang mayoritas muslim ) peran
laki
laki menjadi sangat dominan dan kaku dalam berbagai aspek. Aborsi dan
Homoseksualitas mendapat tentangan keras dalam kebijaksanaan negara.
6. Kontrol terhadap Mass Media - Media dikontrol secara langsung
oleh Pemerintah, atau dikontrol secara tidak langsung melalui peraturan
pemerintah, atau lembaga sensor yang kuat.
7. Obsesi terhadap Keamanan Nasional yang berlebihan ? Rasa takut
dijadikan sebagai alat motivasi utama bagi masyarakat.
8. Agama dan Pemerintah sangat bertalian satu sama lain ?
Pemerintahan Fasis cenderung mempergunakan agama untuk memanipulasi
pendapat umum, Terminologi retorikal agama sering digunakan sebagai
pendukung keinginan dan tindakan pemerintah.
9. Perlindungan terhadap Corporate Power ? Aristrokasi Bisnis dan
Industri dari sebuah pemerintahan fasis adalah bisnis dan industri yang
menciptakan keuntungan mutual kepada para pelaku bisnis, pemerintah dan
elit politik.
10. Tekanan keras terhadap Kekuatan Buruh ? Buruh adalah musuh paling
besar bagi pemerintahan fasis oleh karena itu harus dilenyapkan, atau
ditekan sedemikian rupa agar tidak berdaya.
11. Kaum Intelektual and Seni tidak dihormati ? Negara fasis cenderung
menekan kaum intelektual di kalangan akademis, Kaum intelektual yang
dianggap membahayakan bisa disensor atau ditangkap, Demikian juga
dengan
Seniman.
12. Obsesi terhadap Kejahatan dan Hukuman ? Dibawah Rejim fasis, Polisi
diberikan wewenang khusus dalam aksi ?menegakkan? atau memaksakan
hukum,
sehingga ditakuti oleh masyarakat.
13. Korupsi dan KKN yang merajalela ? Rejim Fasis hampir selalu
merupakan kelompok sahabat, teman, saudara yang ditunjuk untuk
menempati
posisi2 strategis di pemerintahan yang saling melindungi satu sama
lain.
Sumber daya Nasional, Kekayaan negara dikorupsi atau bahkan dicuri oleh
mereka
14. Pemilihan Umum yang diatur ? Pada Negara Fasis, Pemilihan umum
adalah sandiwara besar yang selalu berakhir dengan bahagia, dimana para
pelaku fasisme akan selalu menjadi pemenang, kecurangan dan pemaksaan
menjadi hal yang biasa pada masa pemilihan umum, Lembaga2 legistasi
digunakan untuk mengontrol jumlah pemilih dan banyaknya suara, termasuk
pula didalamnya manipulasi media masa.
Terdengar tidak asing? ya itulah dia.. jadi Indonesia ini Fasis apa
ndak?
Gini, sebagai bahan perbandingan aja deh, kalau ditilik2 sama aku
sebenernya fasisme tidaklah selalu berkonotasi buruk.. sama seperti
marxisme, komunisme.. fasisme pun sebenarnya beranjak dari keinginan
untuk membangun suatu komunitas yang sempurna / baik, hanya saja pada
akhirnya selalu saja ada distorsi kekuasaan yang mengakibatkan lahirnya
konotasi2 buruk dan melahirkan suatu rejim yang mengerikan?
Coba bandingkan Konsep fasisme AWAL yang diciptakan oleh Mussolini
untuk
italia pada perang dunia kedua ( sorry pake bahasa inggris sesuai
aslinya ) :
? Not many people ever realize that Benito Mussolini and his Fascist
Party were against abortion, birth control, pornography, secret
societies, unnatural sex and a host of other spiritually debilitating
maladies that our liberal society now accepts as normal life in this
materialistic and hedonistic society.
Under Fascism the educational system of Italy had been entirely
remodelled. Before the "Fascist Era" schools emphasized the making of
clerks and 'white collar' workers, with a contempt for manual labor, to
that of making mechanics with a pride in craftmanship. Under Mussolini
the schools were defined as being "spiritual, intellectual, aesthetic
and practical". Students were taught that being a farmer or a mechanic
was everybit as noble an occupation as being a lawyer, doctor or
teacher.
Mussolini had looked upon the cinema with a critical eye and found it a
possible sourse of corruption and instituted a more rigid censorship of
films than any other country in Europe. And who did the censoring?
Mussolini? The Fascist Party? Neither one. Actually it was the Italian
mothers of the community. It was merely Fascism once again proving it's
knowledge of human nature: the mother is instinctively Puritan. Films
with any hint of lewdness were forbidden to all; to children in
addition
was denied, the sight of films which had a motif of passion or of
crime.
Romantic films were allowed but the content had to be kept clean and
decent.
Pornographic books, newspapers and pictures were banned and anything
which obviously sought to attract by lewdness alone. Children were
forbidden tobacco products before the age of fifteen. Gambling casinos
were also forbidden and the state instituted a lottery system to fulfil
a person's desire to gamble while at the same time providing a source
of
income to the nation for social services. Any bar knowingly serving
alcohol to minors had their establishment smashed and a little corporal
punishment administered to the offending proprietor and or bartender by
a squad of Black Shirts, as crude as it may sound, it kept court costs
down and the repetitive rate of offenses low. To top it off,
Mussolini's
Fascist regime was the first to eliminate organized crime (the mafia)
and the immorality it fostered. ?
Nah? ternyata ndak seperti yang kita sangka ya? haya sekali lagi..
hehehe orang indonesia itu suka pake kata2 yang terdengar ? wah! ?
dalam
mengekspresikan sesuatu ( hiperbolis ), sembari gak tau bener makna dan
definisi kata tersebut? so? be wise.. hati hati sama kata2 yang tidak
kita kenali
Labels:
rerasan
Subscribe to:
Posts (Atom)