Tuesday, October 26, 2004

FASISME YANG SALAH KAPRAH

Apakah fasisme itu sebenarnya… maksudku.. arti yang sebenar benarnya.
Kebingungan itu menderaku untuk selalu mencari. Dan ternyata, memang banyak hal membingungkan pada konsep itu.
Keinginan untuk mengerti lebih dalam muncul setelah aku membaca “FONTAMARA” karya Ignazio Silone yang diterbitkan oleh yayasan Obor. Karya dengan setting wilayah Italia Selatan ini sangat mengusikku. Karena istilah fasis di buku tersebut agak berbeda dengan fasis yang ada dalam benakku selama ini.
Sepengetahuanku, fasisme adalah prinsip atau paham golongan nasionalis ekstrem yang menganjurkan pemerintahan otoriter. Berarti orang yang fasis adalah orang yang menganut paham fasisme tersebut.
Dalam benakku, militer sangat dominan dalam pemerintahan yang fasis. Namun ternyata, bisa juga tanpa militer orang menjadi sangat fasis. Memakai orang sipil untuk dijadikan milisi.
Sebenarnya dalam banyak hal, fasisme tidak hanya berbalut militer, namun, tanpa balutan militerpun seorang dapat dianggap fasis jika dalam hal cara berpikir dan cara pencapain tujuannya menggunakan cara yang otoriter.
Its mean.. saat presiden Suharto menjabat, boleh dibilang saat itu fasisme juga terjadi, namun dalam balutan demokrasi pancasila.
Seorang sahabat memberikan beberapa masukan tentang fasisme itu sendiri kepadaku. Dan menurutku masuk akal juga apa yang ditulisnya tersebut.
Ia membantuku mencari jawaban dengan mengirimkan beberapa catatan berikut:
14 Karakter Fasisme

Dr. Lawrence Britt seorang Pengamat politik, pada tahun 2003 menulis
artikel mengenai Fasisme pada majalah Free Inquiry, sebuah tabloid
kemanusiaan, Ia mempelajari beberapa rejim fasis dari tokoh2 seperti :
Hitler di Jerman, Mussolini di Itali, Franco di Spanyol, Suharto di
Indonesia dan Pinochet di Chili.

Dia berpendapat bahwa semua rejim memiliki 14 kesamaan dan menamakannya
sebagai karakter fasisme, dan inilah ke 14 Ciri rejim Fasisme :

1. Nasionalisme yang berlebihan, Fasisme cenderung memanfaatkan
slogan2 patriotik, motto, symbol dan lagu secara konstan, Lambang
partai
pada bendera, baju dan baliho di tempat2 umum.

2. Tidak menghargai dan memandang Hak Asazi Manusia ? Dikarenakan
rasa khawatir dan ketakutan akan digulingkan, pelaku Fasisme mencoba
meyakinkan bahwa HAM dapat diabaikan dalam beberapa kasus yang
?tertentu? sesuai kebutuhan,

3. Kebencian terhadap satu Golongan sebagai kambing hitam, Massa
dipersatukan dalam satu partai yang patriotik agar dapat meng-eliminir
ancaman2 terhadap perpecahan seperti : Rasial, kesukuan, Agama ( SARA
).

4. Pemberian kekuatan lebih pada Militer ? Tentara dan Militer
mendapat posri yang lebih dari pemerintah

5. Dominasi Gender ? Pemerintah atau Negara yang fasis akan
cenderung didominasi secara eksklusif oleh gender laki2, Disinilah (
terutama di Indonesia, sebagai negara yang mayoritas muslim ) peran
laki
laki menjadi sangat dominan dan kaku dalam berbagai aspek. Aborsi dan
Homoseksualitas mendapat tentangan keras dalam kebijaksanaan negara.

6. Kontrol terhadap Mass Media - Media dikontrol secara langsung
oleh Pemerintah, atau dikontrol secara tidak langsung melalui peraturan
pemerintah, atau lembaga sensor yang kuat.

7. Obsesi terhadap Keamanan Nasional yang berlebihan ? Rasa takut
dijadikan sebagai alat motivasi utama bagi masyarakat.

8. Agama dan Pemerintah sangat bertalian satu sama lain ?
Pemerintahan Fasis cenderung mempergunakan agama untuk memanipulasi
pendapat umum, Terminologi retorikal agama sering digunakan sebagai
pendukung keinginan dan tindakan pemerintah.

9. Perlindungan terhadap Corporate Power ? Aristrokasi Bisnis dan
Industri dari sebuah pemerintahan fasis adalah bisnis dan industri yang
menciptakan keuntungan mutual kepada para pelaku bisnis, pemerintah dan
elit politik.

10. Tekanan keras terhadap Kekuatan Buruh ? Buruh adalah musuh paling
besar bagi pemerintahan fasis oleh karena itu harus dilenyapkan, atau
ditekan sedemikian rupa agar tidak berdaya.

11. Kaum Intelektual and Seni tidak dihormati ? Negara fasis cenderung
menekan kaum intelektual di kalangan akademis, Kaum intelektual yang
dianggap membahayakan bisa disensor atau ditangkap, Demikian juga
dengan
Seniman.


12. Obsesi terhadap Kejahatan dan Hukuman ? Dibawah Rejim fasis, Polisi
diberikan wewenang khusus dalam aksi ?menegakkan? atau memaksakan
hukum,
sehingga ditakuti oleh masyarakat.

13. Korupsi dan KKN yang merajalela ? Rejim Fasis hampir selalu
merupakan kelompok sahabat, teman, saudara yang ditunjuk untuk
menempati
posisi2 strategis di pemerintahan yang saling melindungi satu sama
lain.
Sumber daya Nasional, Kekayaan negara dikorupsi atau bahkan dicuri oleh
mereka

14. Pemilihan Umum yang diatur ? Pada Negara Fasis, Pemilihan umum
adalah sandiwara besar yang selalu berakhir dengan bahagia, dimana para
pelaku fasisme akan selalu menjadi pemenang, kecurangan dan pemaksaan
menjadi hal yang biasa pada masa pemilihan umum, Lembaga2 legistasi
digunakan untuk mengontrol jumlah pemilih dan banyaknya suara, termasuk
pula didalamnya manipulasi media masa.

Terdengar tidak asing? ya itulah dia.. jadi Indonesia ini Fasis apa
ndak?

Gini, sebagai bahan perbandingan aja deh, kalau ditilik2 sama aku
sebenernya fasisme tidaklah selalu berkonotasi buruk.. sama seperti
marxisme, komunisme.. fasisme pun sebenarnya beranjak dari keinginan
untuk membangun suatu komunitas yang sempurna / baik, hanya saja pada
akhirnya selalu saja ada distorsi kekuasaan yang mengakibatkan lahirnya
konotasi2 buruk dan melahirkan suatu rejim yang mengerikan?

Coba bandingkan Konsep fasisme AWAL yang diciptakan oleh Mussolini
untuk
italia pada perang dunia kedua ( sorry pake bahasa inggris sesuai
aslinya ) :

? Not many people ever realize that Benito Mussolini and his Fascist
Party were against abortion, birth control, pornography, secret
societies, unnatural sex and a host of other spiritually debilitating
maladies that our liberal society now accepts as normal life in this
materialistic and hedonistic society.

Under Fascism the educational system of Italy had been entirely
remodelled. Before the "Fascist Era" schools emphasized the making of
clerks and 'white collar' workers, with a contempt for manual labor, to
that of making mechanics with a pride in craftmanship. Under Mussolini
the schools were defined as being "spiritual, intellectual, aesthetic
and practical". Students were taught that being a farmer or a mechanic
was everybit as noble an occupation as being a lawyer, doctor or
teacher.

Mussolini had looked upon the cinema with a critical eye and found it a
possible sourse of corruption and instituted a more rigid censorship of
films than any other country in Europe. And who did the censoring?
Mussolini? The Fascist Party? Neither one. Actually it was the Italian
mothers of the community. It was merely Fascism once again proving it's
knowledge of human nature: the mother is instinctively Puritan. Films
with any hint of lewdness were forbidden to all; to children in
addition
was denied, the sight of films which had a motif of passion or of
crime.
Romantic films were allowed but the content had to be kept clean and
decent.

Pornographic books, newspapers and pictures were banned and anything
which obviously sought to attract by lewdness alone. Children were
forbidden tobacco products before the age of fifteen. Gambling casinos
were also forbidden and the state instituted a lottery system to fulfil
a person's desire to gamble while at the same time providing a source
of
income to the nation for social services. Any bar knowingly serving
alcohol to minors had their establishment smashed and a little corporal
punishment administered to the offending proprietor and or bartender by
a squad of Black Shirts, as crude as it may sound, it kept court costs
down and the repetitive rate of offenses low. To top it off,
Mussolini's
Fascist regime was the first to eliminate organized crime (the mafia)
and the immorality it fostered. ?

Nah? ternyata ndak seperti yang kita sangka ya? haya sekali lagi..
hehehe orang indonesia itu suka pake kata2 yang terdengar ? wah! ?
dalam
mengekspresikan sesuatu ( hiperbolis ), sembari gak tau bener makna dan
definisi kata tersebut? so? be wise.. hati hati sama kata2 yang tidak
kita kenali

1 comment:

Anonymous said...

terima kasih banget ya mba tulisannya bisa saya kutip buat bahan tugas makalah saya nih...