Monday, May 29, 2006

Yogya ku sedang berduka

Kotaku tercinta sedang berduka.
Aku berduka.
Semua nya berduka.
Manusia boleh berencana. Alam dapat di akal i.
Namun, Tuhan tidak dapat diajak kompromi.

Kehidupan harus terus berjalan.

Tuesday, May 23, 2006

Satu tanya "Mengapa....?"

Satu tanya, "Mengapa....?"
Beragam tuduhan jawabnya....

Iya lho.... satu pertanyaan mengapa yang bersumber dari rasa kehilangan, malah direspon dengan segala macam tuduhan. Yang tukang curiga lah, ya... tukang menanam kebencian lah,....

Jika kamu menanam mangga berbuah mangga...
Jika kamu menanam pisang berbuah pisang ..
(ya iyalah,. .. tanam mangga berbuah mangga,....memangnya tanaman ajaib... yang ditanam rinto harahap?... bisa menanam buah buah an aneh???)
kalau ndak salah yang nyanyi broery (kata img)


Hmmm.....
Apakah ada yang tidak beres dengan pertanyaan "Mengapa....?"

Friday, May 19, 2006

Langit biruku.........



Kulihat awan seputih kapas
Arak berarak di langit luas
Andai kudapat
Kesana terbang
Akan kuraih kubawa pulang...


Namun ternyata.. walaupun ada di atas awan, tetap saja tak bisa kuraih awan awan itu.

Pemusik Khawatir Soal......???

Apa yang sangat dikhawatirkan seorang pemusik saat mempunyai seorang anak????Ia khawatir jika si anak tidak mempunyai rasa musikalitas sama sekali. Alias kalau nyanyi fals, atau kalau ngikutin beat ndak bisa pas, atau ndak ada rasa ketertarikan sama sekali dengan musik.

Itulah yang sangat dikhawatirkan seorang pemusik jika mempunyai seorang anak.



Kalau dipikir pikir, ndak cuma pemusik profesional aja kok yang khawatir kalau anaknya ndak punya sense of music sama sekali. Setiap orang juga pasti khawatir. Iya kan?

Aku sendiri lebih sering mengingatkan anak anak untuk latihan musik daripada belajar yang rutin. Ya. karena belajar itu sudah jadi kegiatan wajib, maka musiklah yang harus diberi perhatian lebih.
Dan entah, mengapa aku sangat senang saat si sulung dan si tengah dapat menyelesaikan satu karya dengan apik.
Atau, ini keinginan terpendam si ibu yang ingin jadi pemusik???

Monday, May 15, 2006

Obsesiku 20 tahun terakhir



Puncak Merapi terlihat dari puncak Merbabu.
13 Mei 2006.


Setelah 20 tahun berlalu, akhirnya tercapai juga keinginanku untuk naik gunung lagi. Entah gunung apapun aku ndak perduli. Yang pasti naik gunung. Kangen sekali rasanya merasakan sensasi saat naik dan sampai puncaknya.
Akhirnya akhir minggu lalu, jadi juga naik gunung. Gunung Merbabu jadi tujuan tim yang aku tumpangi. Mereka adalah rombongan dokter yang sedang ambil spesialis internist di fk undip. Kebetulan teman yang mengajak aku adalah karyawan phapros yang mensponsori perjalanan rombongan tersebut.
Ah.. tak perduli aku.. rombongan apa yang aku ikuti, yang penting bisa ndaki gunung lagi.
Dan ternyata.. cukup menyenangkan join sama dokter dokter ini, komuniti baru bagi aku. Kebetulan juga ada yang satu almamater pas smp dan sma. Ya udah. jadi terasa bukan masuk rombongan tak dikenal.

Satu hal yang membuatku merasa puas. Bisa sampai puncak.
Setelah ini.. mungkin aku sudah tidak terobsesi untuk naik gunung lagi.
Ya.. kalau ada yang ngajak.. ayuk ayuk aja sih. Tapi tidak senafsu kemaren ini.


Taman Edelweiss di Puncak Merbabu



Seingatku dulu, yang namanya edelweiss ya tingginya paling tidak lebih tinggi dari aku, tp yang kulihat kemaren, ada buaaaaaaaaaanyak tanaman edelweis yang tingginya melebihi aku. Ya kurang lebih 2 meter an lah tingginya.
Jadi.. mungkin sebutannya berubah kali ya.. jadi pohon edelweiss.

Orang "Pinter"

Seorang teman bercerita kepadaku, bahwa dia sekarang tahu bahwa sahabatnya ternyata pernah tidur bareng dengan seseorang yang pernah tidur juga dengan dia.
Kemudian, saya tanyakan, darimana dia tahu? apakah sahabatnya itu bercerita kepadanya?
Tidak, demikian jawabnya.
Then,.. darimana dia tahu???
Kemudian dia bercerita bahwa dia membawa foto sahabatnya dan foto laki laki yang pernah tidur dengannya itu ke orang "pinter". Dia menanyakan ke orang "pinter" tersebut tentang hubungan kedua orang tersebut.


Terkejut juga aku mendengar apa yang dilakukannya. Sedemikian parahkah krisis kepercayaan dirinya, sehingga harus membawa suatu masalah yang cukup privat kepada orang "pinter".
Mau ketawa geli, kok dia lagi serius.
Kemudian aku tanyakan kepadanya, apakah dia percaya dengan apa yang dikatakan orang "pinter" tersebut? Dia bilang dia lebih percaya kepada orang "pinter" tersebut daripada perkataan sahabatnya.
Ya.. kalau seseorang sudah menyerahkan hidupnya kepada orang "pinter", gimana lagi dia akan percaya argumentasi rasional. Semua akan tidak dianggapnya. Karena dia telah menyerah kepada orang "pinter"
Dan endingnya ternyata... bahwa si teman ini merasa tidak lebih jelek dari sahabatnya. Dan berpikir bahwa sahabatnya tidak lebih baik dari dirinya.
Dan.. entahlah.. saat ini mereka masih bersahabat atau tidak. Jika sahabatnya tahu bahwa dia telah membawa foto dirinya ke orang pinter tanpa ijin pula.

Aneh ya?
Namun tiba tiba aku teringat, bahwa memang teman tersebut hobinya pergi ke orang "pinter". Tidak hanya satu orang, bahkan berpuluh puluh orang pinter sudah didatanginya. Tentu saja dalam rangka menyelesaikan segala macam masalah pribadinya.
Hmmm
Ya tidak aneh kalau begitu itu. Dia lebih suka membawa segala masalahnya kepada orang "pinter" daripada menyelesaikannya sendiri berdasar pemikiran rasional.

Ya.. aku anggap tidak rasional lah.. membawa segala masalah bahkan masalah yang tidak mutu pun kepada orang "pinter". Sepertinya kok dia lebih percaya kepada orang pinter daripada percaya kepada dirinya sendiri dan si Pemberi Kehidupan.

Ini bukannya aku tidak percaya akan adanya orang pinter lho. Aku percaya bahwa ada orang orang yang diberi kelebihan dengan dapat melihat lebih jauh, atau melihat lebih dalam ke diri orang lain. Karena ada satu orang teman dari planet Mars juga memiliki kemampuan tersebut.
Namun, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikiranku untuk memanfaatkan mereka dalam menyelesaikan masalah masalah kehidupan yang menerpaku. Cukup sampai mengerti dan mengetahui bahwa ada orang orang seperti itu.

Kadang aku berpikir, orang pinter pasti butuh duit juga dong. Dia akan memberi jawaban kepada klien nya, apa yang diinginkan kliennya.. ya ndak?
Paling tidak, itu dapat membina supaya si klien tetap datang kepadanya. Dan semakin tergantung kepadanya.
Harusnya orang2 pinter itu bukannya komersil mau beroperasi karena dibayar, tapi mau membantu karena memang si orang perlu dibantu, itupun demi kebaikan....

Aku cuma berharap, ya mudah mudah an saja, suatu hari dia tidak membawa semua foto teman temannya yang menimbulkan masalah kepadanya ke dukun ....... !!!!
Amit amit deh ah!

Thursday, May 11, 2006

Mencintai tidak harus karena pernah tidur bareng....

Seseorang teman berkata kepada salah satu temanku tentang orang yang mencintai dirinya,
"ndak mungkin kok dia mencintai kamu kaya sekarang ini kalo kamu ndak tidur sama dia"

Sebegitu dangkal kah ukuran cinta? Hanya dari urusan tidur bareng dapat dilihat alasannya darimana orang bisa mencintai orang lain dengan sangat dalam.

Benarkah?

Padahal tidak menutup kemungkinan orang mencintai bukan dari masalah tidur barengnya. Ada orang yang dapat mencintai karena hal hal lain diluar masalah seks.
Namun ternyata ada yang berpendapat begitu. Bahwa tidak mungkinlah orang dapat mencintai dengan sangat dalam tanpa pernah tidur bareng.
Bener lho. Ada yang berpendapat sebegitu naifnya. Kok bisa ya? Berarti dia tidak percaya dengan kalimat mencintai tidak harus memiliki.

Aku sih masih percaya kok, bahwa tanpa tidur barengpun orang masih dapat saling mencintai. Sumpah.

Jadi kalimat pertama di atas.. salah besar!!!

Sumpah Pocong

Beberapa hari yang lalu saya membaca headline berita di salah satu surat kabar ibu kota. Mr. X bersedia disumpah pocong untuk penyerahan uang suap yang dia lakukan kepada jaksa A dan B.
Jadi geli bacanya....
Sebenernya esensi sumpah pocong itu apa dan bagaimana sih? Kok jadi aneh. Dulu sumpah pocong biasanya dipakai untuk hal hal yang bersifat melanggar adat istiadat. Dan jarang sekali dipakai pada masa modern ini. Kalaupun ada dapat dihitung dengan jari.

Nah urusan suap menyuap, dimana mana di seluruh dunia, yang namanya uang suap mah ndak dapat dibuktikan, kecuali pada saat penyerahannya ada rekaman tersembunyi nya.. atau .. ada tanda terimanya (yang ini mah bakalan tidak mungkin ada!).
Nah memang untuk membuktikan uang suap bakalan sulit amit amit. (ada sih yang dapat membuktikan, namun biasanya prosedurnya.. yang memberi suap akan menjebak penerima suap, contoh kasus: Mulyana W Kusuma itu)

Satu satunya jalan memang pake bersumpah. Tapi sumpah aja kan tidak dapat dijadikan dasar di pengadilan. Lha mbok sampai sumpah sumpah demi Tuhan deh.. ndak bakalan diterima deh jadi bukti.
Nah.. kalau terus si pelaku sampai siap melakukan sumpah pocong. Apa yang akan terjadi???
Untuk publik mungkin dapat diterima, namun pengadilan ?
Entah pengadilan agama menerima ndak ya??? Untuk urusan sumpah pocong tersebut.

Saturday, May 06, 2006

FESTIVAL TOPENG by Teater Koma

Festival Topeng, 5 sd 14 Mei 2006, di TIM.



Memang, kadang kadang kita lebih suka memakai topeng daripada menunjukkan wajah asli kita.
Semakin kompleks kehidupan kita, semakin banyak pula topeng yang kita pakai.
Semakin dewasa usia kita, semakin beragam topeng yang kita miliki.
Entah, sepertinya memang masa anak anak adalah masa yang paling murni, karena saat itulah kita menjadi diri kita sendiri.

Tuesday, May 02, 2006

Komentar untuk sang anonymous

anonymous comment:

coba kalau suami ibu yang berbuat tidak baik terhadap orang lain dikarenakan habis nonton adegan yang syur di kantor, atau coba kalau anak ibu pulang sekolah ramai-ramai nonton adegan syur kemudian berbuat tidak baik bersama-sama.....

dan ini fakta nyata yang sudah tidak bisa disangkal lagi.

makanya harus ada pirantinya...kalau piranti belum bagus...sambil di jalankan dan diperbaiki.....

mohon maaf ya bu
-peace-



Dari komentar di atas..
Apa yang saya khawatirkan memang benar terjadi pada pandangan sebagian masyarakat di Indonesia. Kalaupun tidak sebagian besar.. pastilah beberapa dari mereka.
Ya.. seperti pendapat di ataslah..
ternyata pendapat mereka atas adanya RUU APP memang benar benar merupakan pencerminan dangkalnya sudut pandang mereka atas perilaku pribadi pribadi yang ada di Indonesia.
Ya.. benar.
Mereka berpikir bahwa RUU APP hanyalah alat untuk menangkal hal hal yang berhubungan dengan esek esek.
seks. seks dan seks. porno.. porno .. sampai jadi parno.

Sejujurnya... urusan seks dan porno itu memang urusan pikiran kita. Jika otak kita ndak ngeres.. mau lihat orang sexy ampun ampun an.. juga ndak bakalan lah kita jadi memperkosa perempuan.
Urusan moral dan akhlak orang Indonesia... aku yakin masih banyak yang baik daripada yang jelek.
Lagian ndak semua orang kan? habis lihat vcd porno terus memperkosa orang?
iya kan?

Sekali lagi.
Urusan RUU APP itu tidak hanya urusan seks dan porno.... tp RUU APP itu ternyata dampaknya akan sangat luas.
Jadi bagi yang hanya mikir urusan seks dan porno... memang bakalan tidak tahu bahwa implikasi RUU APP itu sangat serius dikemudian hari. Apalagi untuk negara Indonesia yang notabene terdiri dari beratus ratus ragam budaya yang mempunyai adat dan ciri khas nya masing masing...
Jangan hanya karena urusan seks dan pornografi... Indonesia diarahkan jadi negara...."...".
Tolong... jangan mengeksklusifkan pemikiran diri sendiri dengan memakai kaca mata kuda.
Semakin luas kita melihat hal hal lain dari berbagai sudut pandang, kita akan semakin kaya dengan informasi dan dapat lebih mengerti.. bagaimana yang seharusnya dan semestinya.

Memang sih.... standard dan norma yang menurut kita baik buat kita.. memang belum tentu baik buat orang lain. Setiap orang memang memiliki hal tersebut sendiri sendiri...

dan... sekali lagi..
tolong simak baik baik posting sebelumnya yang bertajuk.. say no pornografi without RUU APP. http://retnanda.blogspot.com/2006/04/tolak-pornografi-dan-pornoaksi-tanpa.html
dan tolong dibaca dengan detail postingan http://retnanda.blogspot.com/2006/04/yang-terakhir-tentang-ruu-app.html
dalam tulisan tersebut saya ajukan bahwa lebih baik menerapkan Undang Undang yang sudah ada. Jika urusan VCD porno yang jadi concern masyarakat.. kenapa tidak UU yang berhubungan dengan penyiaran dan penyebarannya saja yang diperketat? Jika urusan goyang Inul yang anda permasalahkan? kenapa tidak UU penyiaran di Media Televisi saja yang lebih diperketat? Ya kan? UU Pers dipertegas, UU Film di jalankan dengan baik. Ya kan?

Urusan moral? itu urusan pribadi. Urusan seks? itu juga wilayah pribadi. Norma norma yang berlaku akan mengatur hal tersebut secara otomatis, dan sanksi sosial dari masyarakat kepada pelanggarnya juga akan terjadi secara otomatis.

Begitulah.. kehidupan ini. Tergantung kita harus semakin pandai menyiasatinya, demikian juga bekal untuk kehidupan generasi penerus kita. Mereka harus jadi generasi penerus yang tangguh, cerdas, bermoral, berakhlak, namun mempunyai wawasan yang luas dan dapat menyaring segala sesuatu yang tidak semestinya secara otomatis, tanpa paksaan. Sebagaimana aku, dan mungkin banyak teman teman lain yang seumuran saya menghadapi masa remaja dan masa transisi dengan sebaik baiknya. Semua dapat terlampui dengan baik, jika bekal dari dalam itu kuat.
Walaupun globalisasi menyerbu Indonesia, niscaya mereka dapat menyaringnya sendiri secara pribadi. Bagaimana mungkin kita memasuki era globalisasi jika kita melangkah mundur. (memangnya mau seperti Afghanistan di masa Taliban??)

Ah ya.. yang terakhir...sebagai informasi RUU APP jika sudah disahkan.. pastilah akan jadi UU.. dan UU adalah peraturan yang harus ditaati dan ada dasar hukumnya untuk memberikan sangsi untuk masyarakat... ia bukan piranti yang dilaksanakan dan untuk pembelajaran lagi. Jadi.. UU APP bukan piranti yang sambil dijalankan bisa diperbaiki!!! tolong dicatat itu. Mosok iya Indonesia mau bikin tradisi bikin revisi UU bolak balik biar jadi ajang demo masyarakat. Ndak lucu kan?

Semoga ke depan Pemerintah tidak mempermainkan rakyat Indonesia dengan isu isu berbagai macam RUU dan berbagai macam isu lain yang membuat rakyat Indonesia terpecah belah dan semakin terperosok dalam ketidak berdayaan. Revisi UU ketenagakerjaan lah, urusan RUU APP lah, urusan tarif ini mau naik lah, isu tarif itu mau naik lah. Tapi ndak ada yang pasti. botal batal terus. Ini kan bukan semacam game, yang bisa di mainkan ulang lagi dan terus lagi. Ini negara lho!!!

Dan akhirnya...?
Rakyat jadi tidak berdaya, baik secara ekonomi, politik, sosial, bahkan budaya sekaligus.
Tragis kalau memang rakyat dipermainkan terus.
Semoga kedepan ini tidak ada lagi yang mau dipermainkan isu isu yang membuat rakyat Indonesia jadi terlihat tidak berdaya.