Sunday, June 10, 2012

Pulau Obi Tanpa Ubi ( part 1)


Tugas ke pulau Obi? Why not? Pikir saya waktu dapat job pekerjaan di tempat tersebut. Tempat baru selalu membuat saya bergairah. Terpikir aka nada tantangan baru lagi.
Akhirnya saya setuju aja dengan tawaran tersebut.
Perjalanan ke obi dapat ditempuh dua cara, lewat dua cara. Pertama dengan pesawat dulu ke Labuha, dan dilanjutkan dengan perjalanan laut ke pulau obi. Atau langsung naik kapal laut ke pulau obi. Pilihan jatuh pada naik kapal langsung aja. Selain males gonta ganti alat transport, ternyata dari labuha ke pelabuhan juga makan waktu, disamping jadwal lanjut ke pulau Obi masih nunggu kapal laut lagi kan?... ending nya sama deh lama perjalanan untuk sampai ke pulau obi.

Dari Jakarta, transit di ternate satu malam, berhubung dah hampir bosan dengan kota ternate, akhirnyalah saya Cuma stay di hotel dan jalan makan aja. Makan ke tempat itu itu aja yang hampir membuat saya bosan juga.

Keesokan harinya, barulah perjalanan sebenarnya dimulai. Dengan menggunakan kapal Sumber Raya, kami menuju Pulau Obi. Lumayan, dapat kamar yang diisi sekamar berdua, walau hanya dengan kipas angin. Not so bad.

Perjalanan yang ditempuh dari Ternate sampai ke Jikotamu di Pulau Obi sekitar 16 jam. Kata pendamping sih itu termasuk cepet. Biasanya baru sampai sekitar jam 4 sorean.
Selama perjalanan menuju Jikotamu, kapal berhenti di beberapa perhentian desa. Biasanya penumpang naik turun di masing masing desa desa kecil tersebut.

Selalu ada yang menarik perhatian saat perhentian. Entah itu pedagang makanan, entah itu anak anak...
Kehidupan yang sangat beragam ini memang selalu menarik untuk disimak.


Anak anak dengan gampangnya memancing ikan untuk lauk harian mereka. Begitu gampangnya.







Jikotamu sendiri adalah tempat berlabuh kapal penumpang di Pulau Obi yang ada di Kecamatan Obi Utara.   Ada beberapa buah penginapan di desa tersebut. Kami menginap semalam di desa Laiwui  sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan akhir. Suasana penginapannya sendiri….. not so bad. Apalagi yang kami pilih adalah penginapan yang paling bagus  desa tersebut. Nama penginapannya Dua Puteri. Cukup nyaman.

Perjalanan akhir menuju lokasi, masih harus ditempuh selama tiga jam, mengelilingi Pulau Obi, menuju Obi Selatan. Laut Seram membayang di depan mata. Yang mabok dah siap siap antimo. saya?..no way ... akan sia sia jika perjalanan hanya dikalahkan oleh antimo yang bikin teler itu.

Ada satu desa yang bernama Soligi yang saya kunjungi. Soligi ini masuk Kecamatan Obi Selatan.
Kecil. Namun jangan salah... Fasilitas pendidikan lengkap di sini, dari SD sampai SMA. Jadi, ndak heran kalau banyak mahasiswa juga di desa ini. Dan sepertinya ada ikatan pelajar mahasiswa juga di desa ini. Lupa namanya.





Agar perahu tidak hanyut dan pecah karena ombak Laut Seram yang cukup besar pada musim musim tertentu, penduduk pesisir pantai yang ada berhadapan langsung dengan laut seram biasanya menyimpan perahunya dengan cara digantung.
Tentu saja, tali penggantung harus kuat untuk dapat menahan beban perahu selama berhari hari, saat nelayan tidak berlayar mencari ikan.


(bersambung) 

1 comment:

Unknown said...

Sy sbg putra daerah obi sangat brtrima kasih atas artikelx.mudah-mudahan dgn ini bs jadi penambah smangat oleh anak pemuda obi yg mmprjuangkan aspirasix untk obi...