Thursday, March 17, 2005

UNTUK IGO

Mengkounter tulisan seorang teman tentang jilbab, ingin rasanya aku berbicara panjang lebar tentang masalah yang satu ini.
Jilbab atau hijab. Harus didefinisikan terlebih dahulu ada definisi pakaian jilbab itu sendiri.
Dan dalam kondisi yang bagaimana orang memakai jilbab.
Nah setelah jelas bagaimana situasi dan kondisi yang terjadi pada seseorang setelah ia memakai jilbab, maka akan dapat jelas bagaimana kita memaknai dan mencoba memandang orang berjilbab.
Buat saya pribadi, jilbab tidak terlalu penting. Namun kan belum tentu untuk orang lain. Ya kan?
Jilbab adalah salah satu mode pakaian. Yang orang bisa berganti mode kapan saja ia suka. Jadi tidak akan masalah misalnya bulan ini di rajin pakai jilbab, nanti besok ganti tank top, besoknya lagi mau pake kebaya, nanti malem mau pake u can see.
Simple kan?
Namun dalam kondisi masyarakat Indonesia yang notabene sebagian besar adalah orang orang munafik (note: munafik adalah orang yang melakukan hal hal yang tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya). Maaf, kalau ada yang tersinggung atas statement tersebut.
Untuk orang Indonesia sendiri, sebagian besar orang memaknainya sebagai pakaian yang mencerminkan bahwa pemakainya adalah muslimah yang (mungkin) benar benar muslim. Sebagian orang yang memakai jilbab berpendapat bahwa ia memakai jilbab karena ia sudah siap dengan segala konsekuensi pemakaian jilbab tersebut.
Mau jujur?
Ini kenyataan, sebagian besar orang yang memakai jilbab mengaku mengambil banyak pertimbangan sebelum memakai jilbab. Baru setelah ia yakin dan siap, barulah ia memakai jilbab dalam kesehariannya.
Berarti?
Keputusan memakai jilbab merupakan sesuatu yang cukup penting dalam hidup seseorang. Dan saat ia memutuskan mencopot jilbabnya, itu juga merupakan keputusan yang cukup penting juga.
Jadi?
Statement saya diatas tentang jilbab yang hanya merupakan salah satu jenis mode TIDAK BERLAKU.

So,… berarti ndak salah juga dong kalau aku pribadi melihat orang berjilbab, otomatis aku akan berpikir bahwa si pemakai ini pasti orang yang sudah menaati kewajiban kewajiban dalam syariat islam. Contoh gampangnya: minimal ia sholat lima kali sehari. Ya kan?
Pastilah ia tidak akan melakukan hal hal yang ada diluar garis normal yang ada di syariah islam. Misalnya: pacaran di pinggir jalan, apalagi melakukan hubungan seks pra nikah.
Betul ndak?
(walaupun dalam kenyataan sehari hari, hal tersebut bener bener bertolak belakang).

Jadi Igo yang baik, apa yang salah dengan kita. Dengan masyarakat kita.

Sepertinya sekarang ini banyak orang yang muna. Banyak sekali. Ndak tua ndak muda. Makanya saya termasuk salah satu orang yang tidak setuju dengan aturan sekolah negeri yang mewajibkan muridnya memakai baju koko dan memakai kerudung plus rok panjang pada hari Jumat.
Itu benar benar keputusan yang ndak masuk akal. Apakah kita akan membuat pakaian pakaian tersebut jadi pakaian nasional. Tidak kan?
Hal tersebut hanya membuat murid-murid jadi seorang penipu. Menipu diri sendiri. Menipu orang lain.
Makanya, aku salah adalah satu orang yang akan memindahkan anakku dari sekolahnya, kalau sekolah yang bersangkutan juga akan mewajibkan muridnya berpakaian seperti itu pada hari Jumat. Mendingan sekolah di sekolah Kristen saja sekalian. Beres. (untung sekolahnya tidak begitu). Karena kalau memang aku pengin anakku berpakaian muslim, aku akan menyekolahkannya ke sekolah islam saja sekalian.

Jadi, kalau menurut igo dalam tulisannya tersebut bahwa orang Indonesia cenderung mengurusi hal yang remeh remeh. Itu benar juga. Setuju aku.
Namun sebenarnya, masyakarat luas tidak akan mengurusi hal tersebut kalau media tidak mem blow up masalah tersebut. So, sebenarnya terjadi pembodohan masyarakat. Masyarakat dibentuk jadi orang nyinyir oleh media. Oleh produser infotainment yang ampun gebleknya. (heran aku juga.. apa produser infotainment tidak punya kepekaan dan kesadaran bahwa ia telah membodohi masyarakat??).
Semua hal hal kecil saja bisa jadi besar kalau sudah terpegang oleh orang orang tersebut. Ampun.
Memang aneh orang Indonesia ini.

Mau dilihat dalam skala yang lebih luas lagi?... kita lihat anggota DPR, kita lihat para pejabat, kita lihat para artis yang sok selebritis, kita lihat preman preman kelas teri, kita lihat kyai kyai dengan mobilisasi massanya, kita lihat para pengusaha dengan kkn nya, dan banyak hal lainnya yang terjadi.

Jadi HIDUP orang orang yang tidak munafik. Yang mengatakan benar adalah yang benar dan salah adalah salah.

1 comment:

balq said...

pasti orang itu HAKIM. tul gak..?
*tp kalo agung laksundel itu gak main ketok palu mungkin gak akan berantem tuh anak2 TK DPR. hihihi.